Rasionalisasi Pemilihan Menu Kelompok 2.2
PENDAHULUAN
Berdasarkan
KBBI Olahraga adalah gerak
badan untuk menguatkan dan menyehatkan tubuh. Salah satu olahraga yang ada di
Indonesia adalah dayung. Dayung ini membutuhkan usaha manusia dengan
menggunakan kekuatan otot untuk menggerakan perahu dengan atau tanpa alat,
dikatakan juga bahwa mendayung kayak adalah usaha menggerakan perahu dengan
cara memutar kedua lengan secara bergantian.
Kondisi fisik yang baik tentunya akan membantu keluwesan bergerak,
kekuatan, kecepatan. Perkembangan olahraga dayung di Indonesia dari tahun ke
tahun semakin berkembang dan menunjukkan perkembangan yang terus meningkat dan
ketahanan dalam mengayuh, dan tentunya sesuai dengan jarak yang ditempuh. (Muharam,
2019)
Pada
kompetisi dayung, atlet akan membutuhkan jumlah asupan energi (kalori) yang
besar untuk mendukung aktivitasnya. Dalam hal pemenuhan kebutuhan energi,
seorang atlet secara umum disarankan untuk memenuhi kebutuhannya dengan 60-70%
melalui konsumsi karbohidrat, 20-35% lemak serta 12-15% protein (Guyton, 2014 ). Pengaturan pola
makan pada atlet dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan energi atlet saat melakukan aktivitas. Kebutuhan energi
pada saat berolahraga dapat dipenuhi melalui sumber-sumber energi yang
tersimpan di dalam tubuh yaitu melalui pembakaran karbohidrat, pembakaran
lemak,serta melalui pemecahan protein. (Muharam,
2019)
Pola
makan adalah suatu cara atau usaha dalam pengaturan jumlah dan jenis makanan dengan maksud tertentu, seperti
mempertahankan kesehatan, status nutrisi, mencegah atau membantu kesembuhan
penyakit Makanan merupakan kebutuhan pokok setiap manusia,namun untuk
memelihara tubuh agar menjadi lebih sehat makanan harus memenuhi beberapa syarat yaitu membantu pemeliharaan tubuh, dapat
menyediakan bahan untuk pertumbuhan tubuh (Supariasa, I. Dewa Nyoman,
Bachyar Bakri, 2002).
Apabila kebutuhan gizi atlet tersebut dapat
tercukupi dengan baik maka kesehatan dan kebugaran jasmani atlet tersebut akan
maksimal. Pola makan dan status gizi sangat menentukan bagaimana gambaran
kebugaran dan kesehatan atlet (Muharaam,2019). Maka dari itu, berdasarkan aktivitas latihan
yang dilakukan oleh atlet dayung, makalah ini akan membahas mengenai kebutuhan
gizi atlet dayung dan membuat susunan gizi yang terlampir di postingan
sebelumnya.
ISI
Berdasarkan
perhitungan gizi dari rumus perhitungan jumlah kalori pada buku
Menyusun Diet Berbagai Penyakit edisi 4 (2018) didapatkan bahwa atlet dayung pria dengan
Usia 24 tahun, tinggi badan 188 cm,
berat badan 86 kg membutuhkan kalori
sebanyak 3.612 kalori yang dibutuhkan untuk memenuhi energi atlet dayung.
Menurut jurnal dengan judul Hasil belajar
“ilmu gizi olahraga” pada pemilihan makanan atlet dayung universitas pendidikan
Indonesia (2015) oleh Silmy Zakiyanti, dkk, kalori untuk atlet dayung yang
merupakan atlet dengan intensitas latihan tinggi
a. Karbohidrat
Penggunaan
karbohidrat yang disarankan untuk pemenuhan kebutuhan atlet dayung adalah 60 - 70%, hal ini dikarenakan olahragawan atau atlet
melakukan olahraga yang intensitasnya tinggi dan dalam durasi yang panjang. Penggunaan karbohidrat pada atlet yang
melakukan olahraga dengan intensitas tinggi dan durasi panjang adalah dalam 1 (satu) jam atlet dapat mencapai
penggunaan ± 300 gram karbohidrat, pembakaran karbohidrat
ini setara dengan pembakaran karbohidrat orang yang tidak melakukan latihan
dalam 24 jam. Pada pembuatan menu digunakan patokan 60 % pemenuhan karbohidrat dari 100 % kebutuhan
kalori. Kebutuhan kalori atlet dayung adalah 3612 kalori yang berarti kebutuhan
karbohidrat si konversikan 4 kalori = 1 gram adalah 541,8 gram. Pada hari
pertama pemenuhan karbohidrat adalah 497,85 gram yaitu 91,88% dari target
pemenuhan karbohidrat dan pada hari kedua pemenuhan karbohidrat adalah 449,365
gram yaitu 82,93% dari target pemenuhan karbohidrat.
b. Protein
Pemenuhan
kebutuhan protein yang disarankan bagi seorang atlet dayung adalah sebesar 15%
karena atlet melakukan olahraga dengan intensitas tinggi dan durasi yang
panjang. Kebutuhan protein tersebut harus dipenuhi agar kebutuhan energi dapat
tercapai secara maksimal. Protein dalam bentuk protein hewani maupun nabati
direkomendasikan untuk memenuhi kebutuhan atlet. Pada penyusunan menu digunakan patokan 15%
pemenuhan protein dengan total kebutuhan kalori adalah 3.612 yang kemudian
dikonversikan 4 kalori = 1 gram adalah 135,45 gram. Pada hari pertama
kebutuhan protein yang sudah terpenuhi adalah 112,413 yaitu 82,99% dari target pemenuhan protein. Sementara pada hari
kedua kebutuhan protein yang terpenuhi adalah 118,011 dari 87,17% target pemenuhan
protein.
c. Lemak
Pemenuhan
lemak yang disarankan untuk pemenuhan kebutuhan atlet dayung adalah <30%,
hal ini dikarenakan lemak dalam tubuh atlet selalu dapat memenuhi kebutuhan
atlet sekalipun atlet tersebut bertubuh kurus. Pada pembuatan menu, digunakan patokan 25% dari pemenuhan kalori. Kalori
lemak yang dibutuhkan atlet dikonversikan dalam gram dengan perbandingan 9
kalori = 1 gram lemak adalah 100,33 gram. Pada hari pertama pemenuhan
karbohidrat adalah 95,667 gram yaitu 95,35% dari target pemenuhan lemak dan
pada hari kedua pemenuhan lemak adalah 95,084 gram yaitu 94,77% dari target
pemenuhan lemak
d. Air
Rekomendasi
pemenuhan konsumsi air pada atlet memiliki beberapa faktor yang mempengaruhi
diantaranya kebutuhan, ketersediaan, rasa haus, toleransi gastrointestinal,
suhu, nutrisi maupun biaya yang dikeluarkan.
<120 menit sebelum latihan air
di dalam pencernaan dapat diserap dengan sangat baik
Perhitungan
air adalah 240 ml per gelas. Pemilihan air pada waktu sebelum sesi yang
disarankan 2 - 4 jam sebelum latihan adalah 430 - 860 ml, sehingga saat makan
siang atlet disarankan mengkonsumsi 3 gelas air atau setara 720 ml air untuk
memenuhi kadar persiapan air pada atlet terkait sebanyak 83,7% dari maksimun konsumsi air. Selama latihan atlet disarankan mengkonsumsi
400 - 800 ml air/ jam sehingga di dalam 3 jam latihan atlet disarankan
mengkonsumsi 1200 - 2400 ml air, pemilihan 1560 ml air didasari oleh setiap 15
menit atlet minum setengah gelas air untuk mencegah atlet mengalami dehidrasi. Pemenuhan air adalah 65 % dari maksimun
konsumsi air.
Setelah sesi atlet disarankan meminum 125 - 150% dari jumlah berat badan yang
hilang, Berat badan yang hilang pada atlet adalah 500 gram dimana setara dengan
500 ml kehilangan air, sehingga setelah sesi atlet sarankan mengkonsumsi 625 -
750 ml air diberikan 3 gelas air yaitu setara dengan 720 ml (96% dari maksimum konsumsi) air dimana mempermudah atlet menghitung dan
memenuhi saran konsumsi minumannya. Konsumsi air pada sarapan, snack pagi,
snack siang, makan malam dan snack malam digunakan untuk melancarkan
pencernaan.
Alasan
Pemilihan Menu Makanan
Makanan yang
dipilih ini menyesuaikan dengan data atlet yang memiliki riwayat alergi
terhadap seafood dan tidak suka makan roti. Makanan yang dipilih untuk memenuhi karbohidrat
yaitu nasi putih karena atlet tidak menyukai makanan sepertinroti dan nasi putih merupakan salah satu sumber
makanan
yang memiliki kandungan karbohidrat tinggi. Karbohidrat merupakan nutrisi utama
bagi atlet yang menjadi bahan bakar selama olahraga terutama selama latihan
terus menerus yang berkepanjangan dengan intensitas tinggi. Tubuh memiliki
kapasitas terbatas untuk menyimpan karbohidrat sebagai glikogen sehingga hanya
mampu mendukung latihan intensitas
sedang. Oleh karena itu, saat latihan dengan intensitas tinggi, asupan
karbohidrat perlu ditingkatkan untuk memfasilitasi kinerja olahraga yang
optimal dan mendorong pemulihan di antara sesi latihan. Rendahnya cadangan
karbohidrat dalam tubuh dapat menyebabkan kelelahan, gangguan kinerja selama
pelatihan atau kompetisi, dan berdampak negatif pada fungsi kekebalan tubuh.
Sebaliknya, pada latihan dengan intensitas rendah, asupan karbohidrat juga
diturunkan untuk manajemen berat badan. Dengan demikian, asupan karbohidrat
disesuaikan dengan intensitas latihan (Negro, M. et al., 2013).
Protein
diperlukan untuk membangun jaringan tubuh yang rusak dan membentuk protein baru
sebagai respon rangsangan latihan. Untuk memenuhi protein, kami memberikan menu
melalui protein hewani berupa daging ayam, daging sapi, susu sapi, sosis, telur
ayam, dan dendeng daging sapi. Untuk protein nabati berupa tahu, tempe, dan
kecap. Selain itu, penambahan susu sapi juga bertujuan untuk menambah asupan
protein. Menurut beberapa penelitian, didapatkan hasil bahwa baik protein susu
maupun protein kedelai dapat menambah kemampuan sintesis protein otot namun
didapatkan hasil yang lebih baik pada protein susu. Protein pada susu dianggap
memiliki kemampuan untuk mempertahankan asam amino dalam darah tetap tinggi dan
memperpanjang peningkatan asam amino tersebut sehingga menyediakan lingkungan
yang baik untuk membantu pertumbuhan otot. Sumber protein dengan kualitas
tinggi dianjurkan untuk pertumbuhan otot, beberapa diantaranya adalah telur,
susu dan protein daging (Rosenbloom, 2009). Menu-menu protein tersebut juga dipilih
karena atlet alergi makan seafood dan bahan-bahan mudah dijangkau,
selain itu kandungan proteinnya cukup untuk memenuhi kebutuhan atlet.
Dalam
pemenuhan lemak bagi atlet, menu yang diberikan berupa minyak kelapa yang
merupakan salah satu sumber lemak tertinggi, selain itu pemenuhannya juga
dilengkapi dari protein hewani yang mengandung lemak. Lemak juga merupakan
salah satu sumber yang digunakan, namun penggunaan lemak sebagai energi
bergantung pada ketersediaan lemak dan tingkat pemanfaatan karbohidrat (Negro,
M. et al., 2013).
Pada atlet tersebut, diberikan juga asupan berupa teh. Berdasarkan kandungannya,
teh memiliki kandungan kafein yang dapat bermanfaat untuk menghemat pengeluaran
energi yang digunakan ketika berlatih dan dapat meningkatkan kapasitas latihan.
Menurut studi yang dilakukan, makanan/minuman yang mengandung kafein dapat
dikonsumsi oleh atlet 30-90 menit sebelum berlatih (Negro, M. et al., 2013). Namun berbeda dengan
penelitian yang dilakukan oleh (Beaumont and James, 2017), pemberian kafein
lebih baik diberikan pada saat setelah berlatih karena pemberian kafein sebelum
berlatih dapat menyebabkan efek diuretik pada atlet sehingga dapat mengganggu
jalannya aktivitas berlatih. Sehingga kami memutuskan untuk memberikan teh
setelah atlet selesai berlatih.
DAFTAR
PUSTAKA
- Beaumont, R. E. and James, L. J. (2017). Effect of a moderate caffeine dose on endurance cycle performance and thermoregulation during prolonged exercise in the heat. Journal of Science and Medicine in Sport. Sports Medicine Australia, 20(11), pp. 1024–1028. doi: 10.1016
- Guyton, A. C., Hall, J. E., 2014. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 12. Jakarta : EGC, 1022
- Negro, M., Et Al., 2013. Sports Nutrition Science: An Essential Overview. Progress In Nutrition Vol. 15, N. 1, 3-30, 2013, 15(1), Pp. 3-30.
- MD, M. D. M. & Stephen R. Thompson MD, M. F., 2020. DeLee, Drez, & Miller's Orthopaedic Sports Medicine. 5 ed. Philadelphia: Elsevier.
- Muharam, Rhildan Rahman. (2019). Hubungan Antara Pola Makan Dan Status Gizi Dengan Tingkat Kebugaran Atlet Dayung, JOURNAL OF SPORT SCIENCE AND EDUCATION (JOSSAE) VOL: 4, NO: 1 APRIL (2019)
- Natalie, M. (2015) Sports Nutrition for Health Professionals. United States of America: F. A. Davis Company.
- Rosenbloom, C., 2009. Protein for Athletes. Nutrition and Physical Activity, 44(4), pp. 204-210.
- S, S. Z., Nurhayati, A. and Yulia, C. (2015). Pemilihan Makanan Atlet Dayung Universitas Pendidikan Indonesia. Media Pendidikan, Gizi dan Kuliner. 4(1), pp. 84–92.
- Supariasa, I. Dewa Nyoman, Bachyar Bakri, and I. F. (2002). Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC

Selamat siang teman-teman kelompok 2.2, saya Veby Angelika hendak bertanya terkait dengan pemilihan menu bagi atlet dayung. Apakah seorang atlet diperbolehkan mengkonsumsi nasi merah dibandingkan nasi putih? dan alasannya
ReplyDeleteTerimakasih
Putu Veby Angelika - 41160026
DeleteHalo Veby, terima kasih atas pertanyaanya. Saya Raymond(41160023), mewakili kelompok 2.2 mencoba menjawab.
DeleteUntuk atlet sangat diperbolehkan untuk mengkonsumsi nasi merah. Karena diketahui bahwa kandungan gizi pada nasi merah seperti protein, lemak , dan serat yang lebih tinggi dari pada nasi putih. Akan tetapi karena rasanya kurang diminati atau kurang disukai oleh masyarakat luas tidak terkecuali atlet. Maka dari itu pada rasionalisasi ini kami memutuskan untuk menggunakan nasi putih. Selain itu Kandungan energi dan karbohidrat pada nasi putih lebih tinggi dari pada nasi merah. Kamipun tidak menggunakan roti karena pada skenario atlet tidak menyukai roti.
Mungkin seperti itu yang dapat kami berikan, mohon maaf jika terdapat kekurangan. Salam
referensi :
nilaigizi.com (2018, 1 September). Kandungan Gizi Nasi Putih. Diakses Pada 29 April 2020, dari https://nilaigizi.com/gizi/detailproduk/22/Nasi-/-Nasi-Putih
nilaigizi.com (2018, 21 Agustus). Kandungan GIzi Nasi Merah. Diakses Pada 29 April 2020, dari https://nilaigizi.com/gizi/detailproduk/26/nilai-kandungan-gizi-Beras-merah,-nasi
Teman - teman kelompok 2.2, saya Maria Grace (41160010). Sebelumnya mohon ijin bertanya.
ReplyDeleteSaya mau bertanya untuk perhitungan kalori basal atlet dayung ini. Mengapa digunakan faktor pengalinya 25 kalori? Karena yang saya baca dari buku Menyusun Diet Berbagai Penyakit dari FKUI, pada laki-laki digunakan faktor pengalinya 30 kalori. Mungkin bisa juga diberikan sumber yang teman - teman gunakan untuk perhitungan kalorinya. Terima kasih.
Hallo Grace, terima kasih untuk pertanyaannya :) Saya Ella, mewakili kelompok 2.2.
DeleteUntuk perhitungan kalori basal atlet dayung ini kami juga mengikuti buku Menyusun Diet Berbagai Penyakit dari FKUI. Kami juga memakai faktor pengalinya 30 kalori untuk laki-laki seperti yang tertera di point (d) No. 4 Kebutuhan Kalori di post kami mengenai Susunan 2 Set Menu Olahraga kelompok 2.2. Untuk total kalori basal pada perhitungan kalori sudah sesuai dengan BB aktual x 30 kal = 86 kg x 30 kal = 2.580 kal.
Mohon maaf sebelumnya kelompok kami salah ketik dibagian perhitungan kalori basal yang seharusnya faktor pengalinya 30 kal tetapi 25 kal.
Terima kasih Grace untuk pertanyaan yang menjadi masukan bagi kelompok kami. Tuhan memberkati :)
Kepada kelompok 2.2
ReplyDeleteIzin bertanya, pada postingan sebelumnya, menu makan siang 1 terdapat menu kol, dan pada menu makan siang 2 terdapat cabai merah. Setahu saya, kedua makanan ini dapat menghasilkan gas, apakah ini dapat berpengaruh pada sesi latihan setelahnya? Jika iya, bagaimana cara mengatasinya?
Terimakasih.
Vanessa Veronica. 41160062
Hai Vanessa! Terimakasih atas pertanyaannya. Saya Raven, perwakilan kelompok 2.2.
DeleteUntuk saat ini, saya belum menemukan penelitian tentang pengaruh sayuran kol pada menu untuk atlet. Namun, sebagai pemilihan porsinya, kami tidak menggunakan jumlah yang sangat banyak saat digunakan untuk sop, sehingga kemungkinan untuk begah akibat gas pada perut akibat mengkonsumsi kol tidak sebesar dengan jumlah kol yang sangat banyak. Kondisi juga dalam kondisi baik, dimana atlet tidak memiliki riwayat penyakit maag/penyakit lain pada saluran pencernaan.
Untuk cabai, pada pemilihan makanan kami menggunakan cabai merah karena tingkat kepedasan / kandungan capcaisin pada cabai merah tidak setinggi cabai rawit, sehingga kemungkinan untuk terjadinya iritasi lambung yang menyebabkan panas hingga terjadinya kenaikan asam lambung.
Bagaimana cara mengatasinya? Menurut saya, kita harus melihat terlebih dahulu makanan mana yang benar-benar mempengaruhi sesi latihan setelahnya, sehingga harus melakukan monitoring agar dapat menentukan lagi makanan apa yang tepat untuk dikonsumsi oleh atlet. Apabila disebabkan oleh kol dan cabai, maka kita harus memodifikasi menu kembali agar atlet tersebut tidak terpengaruh oleh hal tersebut.
Semoga pertanyaan dari Vanessa dapat terjawab oleh saya sebagai perwakilan kelompok ya! Salam sehat Vanessa!
Sumber terkait cabai :
Jurnal Balai Penelitian Tanaman Sayuran dengan judul Penetapan Kadar Capsaicin Beberapa Jenis Cabe di Indonesia oleh U Sumpena tahun 2013
Tambahan kata : kondisi atlet
DeleteSelamat sore teman teman kelompok 2.2, Saya Rudolf L Gultom (41160036). Saya ingin bertanya terkait pemenuhan cairan atlet diatas, apakah air saja udah cukup untuk menggati cairan terutama ketika latihan yang intensitasnya berat banyak garam dan mineral yang keluar dari keringat? jika air saja sudah memenuhi sekiranya alasannya apa?
ReplyDeleteSore Rudolf , Saya Amelita mewakili 2.2 ingin membantu menjawab, alasan kami memberikan air saja kepada atlet karena berat badan atlet yang hilang adalah jumlah kehilangan berat badan pada atlet yang mewakili kehilangan cairannya. Berat badan yang hilang adalah 0,5 kg dari berat badan atlet yaitu 86 kg. Kita tau bahwa air didalam tubuh manusia mengandung 60 - 70% air. Jadi air dalam tubuh atlet kira kira 60 kg. Dari yang kami tangkap pemberian air dengan tambahan garam dan mineral perlu di berikan jika altet mengalami dehidrasi dimana dehidrasi ringan sendiri terjadi jika sudah mengalami kekurangan cairan sebesar 1 sampai 2% dan mengalami tanda-tanda dehidrasi seperti haus, lemah, lelah, sedikit gelisah, dan hilang selera makan. Disini memang pasti atlet mengalami kelelahan tapi gejala lainnya tidak dan kehilangan air dari tubuh atlet tidak sampai 1% sehingga kami rasa tidak perlu memberikan air yang mengandung banyak garam dan elektrolit karena atlet belum membutuhkannya. Sekian Rudolf semoga menjawab dan terima kasih
DeleteSumber : Sari, Nika Anita. Hubungan Asuoan Cairan, Status Gizi dengan Status Hidrasi pada pekerja di Bengkel Divisi Engineering PT PAL Indonesia. 2017. Surabaya: Universitas Airlangga
Selamat sore teman teman kelompok 2.2. Saya Jessica Videlya nim 41160074 dari kelompok 2.3. Saya ingin bertanya, teman-teman sudah membuat kebutuhan air pada atlet dan membuat menu tentang pemenuhan air untuk latihan. Bagaimana dengan kebutuhan air pada atlet saat beraktivitas biasa (saat tidak melakukan latihan) ? Apakah tidak mempengaruhi keseimbangan cairan pada atlet selama melakukan aktivitas seharian? Dimana yang kita tahu bahwa saat kita tidak melakukan aktivitas pun akan ada ekskresi air melalui keringat, BAK, BAB dsb yang keluar sekitar kurang lebih 2-3L. Terimakasih sebelumnya
ReplyDeleteHalo Jessica, terima kasih untuk pertanyaannya. Saya Widy perwakilan kelompok 2.2 yang akan mencoba menjelaskan jawaban dari pertanyaan Jessica. Kami menyusun pemenuhan kebutuhan air atlet dalam dua bentuk yaitu penambahan air pada set menu dan pemberian air ketika latihan yang bagi dalam tahap sebelum latihan, saat latihan dan sesudah latihan. Berdasarkan sumber bacaan kami, asupan cairan dalam keadaan normal adalah 2300 yang terdiri dari air yang 2100 ml/hari dan kontribusi metabolisme tubuh yaitu 200 ml/hari. Namun, kebutuhan air akan meningkat ketika adanya peningkatan aktivitas dalam hal ini latihan sehingga untuk memenuhi kebutuhan air atlet, kami memberikan asupan air pada saat latihan yang terbagi dalam tiga tahap yang dijelaskan sebelumnya. Ketika asupan air kurang tercukupi tentunya akan mempengaruhi sistem keseimbangan cairan pada tubuh. Oleh karena penyusunan set menu ini diasumsikan untuk hari latihan altet maka kami memfokuskan pemenuhan kebutuhan air pada saat latihan (dapat dilihat pada postingan set menu) yang telah tercukupi dan melebihi batas minimal dari kebutuhan air atlet setiap tahapnya namun, tidak mengesampingkan kebutuhan air diluar latihan dengan pemberian asupan air dalam berbagai bentuk sajian dalam set menu. Oleh karena itu, kebutuhan air dalam keadaan aktivitas biasa kami berikan asupan air pada set menu. Semoga menjawab Jessica
DeleteSumber bacaan : Guyton, A. C., Hall, J. E., 2016. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 12. Jakarta : EGC
Selamat malem teman teman kelompok 2.2. Saya Alexander Tobias (41160077) ingin menanyakan mengenai pemberian teh pada, seperti yang disebutkan diatas. Apakah kandungan kafein pada semua teh sama? jika tidak teh apa yang cocok untuk diberikan. Terimakasih
ReplyDeleteHalo Alexander, terimakasih atas pertanyaannya. Saya Inda Rebeca (41160073) akan mencoba menjawab pertanyaan dari Alexander.
DeleteUntuk kandungan kafein pada teh atau minuman lainnya seperti kopi, coca cola, coklat maupun minuman berenergi berbeda-beda. Untuk teh apa saja yang cocok diberikan, tentu saja semua teh yang mengandung kafein karena seperti sudah kami jelaskan diatas bahwa kafein bermanfaat untuk menghemat pengeluaran energi yang digunakan atlet selama berlatih dan dapat meningkatkan kapasitas latihan.
Berikut saya tampilkan kandungan kafein dalam berbagai jenis teh menurut Indonesian Food Innovation Centre (IFIC), 2007 dan Asia Fit (2000)
Teh biasa Cangkir 10–30 mg
Teh celup Cangkir 40–70 mg
Teh instant Cangkir 0
Teh hijau Cangkir 50–80 mg
Teh herbal Cangkir 0
Referensi:
Negro, M., Et Al., 2013. Sports Nutrition Science: An Essential Overview. Progress In Nutrition Vol. 15, N. 1, 3-30, 2013, 15(1), Pp. 3-30
Semoga bermanfaat. Salam Sehat!
Selamat malam teman-teman kelompok 2.2. Saya Dewa Ketut Kartika Putra (41160047) ingin menanyakan jika dalam situasi pandemi corona seperti sekarang ini pastinya sebagai seorang atlet dayung tidak dapat melaksanakan latihan seperti biasanya, apakah kebutuhan gizi (lemak,protein,karbohidrat) dan kebutuhan cairan atlet tersebut juga akan berubah? Jika terjadi perubahan kebutuhan gizi (lemak, protein, karbohidrat) kebutuhan mana yang porsinya dikurangi terlebih dahulu apakah lemak? protein? karbohidrat?
ReplyDeleteSelamat malam dewa, Saya Raymond Dwi Prasetya mewakili kelompok 2.2 mencoba menjawab.
DeleteTentu saat pandemi seperti ini membuat aktivitas atlet dayung mengalami penurunan aktivitas. Menu yang kelompok kami susun adalah menu untuk atlet dayung saat melakukan latihan olahraga berat, sehingga kalori yang dibutuhkan juga. Namun pada saat atlet tidak melakukan aktifitas olahraga berat, maka kebutuhan kalori yang dibutuhkan juga berkurang, sehingga asupan gizi yaang diberikan juga berkurang. Begitu juga kebutuhan air akan berkurng, namun harus tetap memenuhi kebutuhan air dalam sehari. Untuk yang dikurangi terlebih dahulu harusnya tertap memperhatikan kebutuhan tubuh yaitu 60-70% konsumsi karbohidrat, 20-35% lemak serta 12-15% protein, sehingga kebutuhan gizi tubuh tetap terpenuhi walaupun dikurangi. Terima kasih, semoga menjawab.
Sumber :
Guyton, A. C., Hall, J. E., 2014. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 12. Jakarta : EGC, 1022
wah keren
ReplyDeleteSelamat malam, terimakasih kak Patrick! Salam Sehat dari saya, Raven!
Deleteselamat malam teman-teman kelompok 2.2. saya Yeremia Wicaksono (41160018) saya ingin bertanya apakah untuk atlet dayung dapat diberikan suplemen multivitamin untuk menunjang latihan sehari hari? terima kasih
ReplyDeleteHalo Yere terima kasih atas pertanyaannya. Saya Raven mewakili kelompok 2.2 ijin menjawab.
DeletePemberian suplementasi multivitamin untuk menunjang latihan dapat diberikan tidak hanya untuk atlet dayung, tetapi juga bisa untuk atlet olahraga lain. Namun, sebelum menentukan apakah atlet tersebut perlu multivitamin, kita perlu melihat/memonitoring kondisi atlet tersebut dan juga melihat AKGnya. Apabila AKG mencukupi dan dari hasil monitoring (bisa menggunakan pemeriksaan laboratorium) tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kekurangan gizi, pemberian multivitamin tidak perlu diberikan.
Mungkin itu yang dapat saya sampaikan. Semoga menjawab pertanyaan dari kak Yere ya! Salam Sehat!
Selamat pagi kelompok 2.2, saya Denny Hendrawan (41150011), saya ingin bertanya mengenai pemberian cairan untuk rehidrasi atlet dayung apakah hanya air saja ? Apakah dianjurkan untuk diberikan sport drink ? Apabila dianjurkan berapakah presentasenya ?
ReplyDeleteTerima kasih
Sore Kak Denny , Saya Amelita mewakili 2.2 ingin membantu menjawab, Benar kami hanya memberikan air saja. Dari yang kami tangkap pemberian air dengan tambahan garam dan mineral perlu di berikan jika altet mengalami dehidrasi dimana dehidrasi ringan sendiri terjadi jika sudah mengalami kekurangan cairan sebesar 1 sampai 2% dan mengalami tanda-tanda dehidrasi seperti haus, lemah, lelah, sedikit gelisah, dan hilang selera makan. Disini atlet mengalami kelelahan tapi gejala lainnya tidak dan kehilangan air dari tubuh atlet tidak sampai 1% , jika berkaitan dengan perhitungannya mungkin bisa melihat penjelasan di komentar saudara Rudolf. Oleh karena itu kami rasa tidak perlu memberikan air yang mengandung banyak garam dan elektrolit serta belum menyarankannya karena atlet belum membutuhkannya. Semoga jawaban kami dapat menjawab dan terimakasih telah bertanya kak.
DeleteSumber : Sari, Nika Anita. Hubungan Asuoan Cairan, Status Gizi dengan Status Hidrasi pada pekerja di Bengkel Divisi Engineering PT PAL Indonesia. 2017. Surabaya: Universitas Airlangga
Terimakasih informasinya Kelompok 2.2
ReplyDeleteSaya Febrina Eva Susanto (41160066) dari kelompok 3.5,
saya ingin bertanya, pada menu A bagian makan malam dituliskan salah satu bahan menggunakan margarin. Mengapa lebih memilih menggunakan margarin dibandingkan lemak tidak jenuh lainnya?
Halo Febri, saya Widy perwakilan kelompok 2.2 yang akan mencoba menjelaskan mengenai pertanyaan Febri. Penggunaan margarin pada menu A ditujukan sebagai salah satu bahan dari sajian nasi goreng yang digunakan untuk menumis bumbu lainnya seperti bawang merah dan bawang putih. Margarin dipilih karena lebih mudah didapatkan, selain itu penggunaan margarin memberikan rasa yang lebih gurih sehingga disukai oleh atlet tersebut. Pemilihan margarin juga disesuaikan dengan informasi gizi yang tertera pada kemasan dan margarin yang digunakan pada set menu A adalah margarin yang selain mengandung lemak juga mengandung omega 3 dan 6, natrium, beberapa vitamin dll yang tertera dikemasan produk margarin pada bagian informasi nilai gizi yang juga dibutuhkan oleh atlet. Semoga terjawab
DeleteSelamat siang kelompok 2.2 saya Tifany E.Susanto (41160064) ingin bertanya.
ReplyDeleteApakah boleh dijelaskan aktivitas apa yang dilakukan saat streching sehingga dilakukan tanpa pemberian asupan nutrisi terlebih dahulu? Terima kasih
Hi Tifany, terimakasih sudah bertanya. Saya Inda Rebeca (41160073) ingin mencoba menjawab pertanyaan dari Tifany.
DeleteSebenarnya untuk aktivitas streching pada olahraga dayung ditekankan pada kekuatan, fleksibilitas dan juga ketahanan.
untuk streching sendiri dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu:
1. streching dinamis: merupakan gerakan yang melibatkan otot-otot dan persendian. Ada berbagai jenis yang bisa dilakukan:
1) Toe walk
2) Heel walk
3) Side ankle walk
4) Walking squad stretch
5) Straigh leg march
6) Straigh leg bound
7) Linear walking lunge
8) Lateral lunge
9) High knee run
10) Knee to shoulder lateral walk
11) A-walk, skip, run progression
12) B-walk, skip, run progression
13) 10-yard movement squence
14) Low squat walk
15) Squat jump sprint
16) Triple jump sprint
17) Sumo squat walk
18) Hamstring handwalk
19) Spider crawl
20) Upper body handwalk
2. streching statis: gerakan yang dilakukan untuk meregangkan otot-otot secara perlahan hingga terjadi ketegangan dan merasakan nyeri karena tarikan otot yang diregangkan.
Sebagai gambaran gerakan-gerakan streching berikut saya sertakan refrensinya agar lebih jelas untuk visualisasinya
http://fik.um.ac.id/wp-content/uploads/2018/09/BUKU-METODOLOGI-KEPELATIHAN-OLAHRAGA
Mengapa dilakukan sebelum asupan nutrisi? karena aktivitas streching bukanlah aktivitas yang berat, disamping itu streching sebelum pemberian nutrisi pada jadwal atlet adalah streching yang atlet lakukan sebelum melakukan aktivitas sehari-harinya bukan latihan.
Semoga bermanfaat. Salam Sehat!
Referensi:
Debrito Danang Aji WIC, Y. (2013) . Survei Kondisi Fisik Atlet Dayung Perahu Naga Putri Di Klub Badjoel Surabaya. Jurnal Prestasi Olahraga, 1(1), pp. 1–9.
Selamat siang kelompok 2.2
ReplyDeleteTerimakasih atas informasi yang telah dituliskan diatas. Saya Dhimas S.N(41160052) dari kelompok 2.1 ijin bertanya. Untuk pemenuhan protein atlet lebih baik menggunakan protein hewani atau nabati dan apa alasannya ? Terimakasih sebelumnya.
Selamat malam dhimas , saya Raymond Dwi Prasetya (41160023) mewakili kelompok 2.2 mungkin mencoba menjawab.
DeleteSelain sumbernya, yang membedakan protein hewani dan nabati adalah kandungan asam aminonya. karena mempunyai kandungan asam-asam amino esensial yang
lengkap yang susunannya mendekati apa yang diperlukan oleh tubuh, serta daya cernanya tinggi sehingga jumlah yang dapat diserap (dapat digunakan
oleh tubuh) juga tinggi. Oleh karena itu sumber protein hewani merupakan sumber asam amino yang baik untuk tubuh. Sedangkan protein nabati tidak mengandung asam amino lengkap seperti protein hewani. Asam amino sendiri sangat diperlukan untuk tubuh karena tubuh hanya memproduksi asam amino nonesensial. Sehingga nilai penyerapan asam amino yang lebih baik adalah protein hewani. Meski begitu, protein hewani umumnya mengandung kandungan lemak yang tinggi sehingga juga perlu diperhatikan yang dimana nanti malah kolestrolnya tinggi.
Terima kasih,
Sumber : Muchtadi, Tien, Sugiyono, dan Fitriyono Ayustaningwarno. 2011. Ilmu
Pengetahuan Bahan Pangan. Bandung: Alfabeta.
Selamat sore teman-teman kelompok 2.2, saya Frilla (41160028) ingin bertanya terkait pemberian kafein pada atlet setelah latihan. Apakah ada batasan tertentu untuk pemberian kafein tersebut?
ReplyDeleteTerima kasih.
Hallo Frilla! Terima kasih atas pertanyaannya. Nama saya Ella, perwakilan kelompok 2.2.
DeleteUntuk batasan kafein, dari sumber yang saya baca disarankan setelah latihan mengonsumsi sebanyak 3-8 mg/kg BM.
Terima kasih.
Sumber : Belski R, Forsyth A, Mantzioris E. Nutrition for Sport, Exercise and Performance. Sydney: Allen & Uwin, 2019.
Informasi yang sangat bermanfaat. Ijin bertanya perkenalkan saya Reynaldy Marpaung NIM 41160069 dari kelompok 3.4.
ReplyDeleteDisebutkan dari rasionalisasi diatas bahwa dianjurkan untuk mengonsumsi protein yang berkualitas tinggi untuk menunjang pertumbuhan otot. Bagaimana cara menilai mutu protein dari bahan makanan yang akan dipilih,berkualitas atau tidak?
Terimakasih.
Halo Reynaldy Marpaung, terima kasih untuk pertanyaan yang diberikan. Saya Raven, NIM 41160059 ijin untuk menjawab yah!
DeleteDalam menilai mutu dari bahan makanan yang akan dipilih, terdapat banyak cara yang dapat dilakukan untuk menilai/mengevaluasi mutu tersebut. Salah satunya, kita bisa menentukan dari profil asam amino esensialnya (AAE). Penentuan ini dapat dilakukan menggunakan metode kromatografi, antara lain menggunakan Kromatografi Cair Kinerja TInggi (KCKT.HPLC) atau Penganalisis Asam Amino (Amino Acid Analyzer). Nah, bahan makanan yang memiliki protein dengan mutu yang tinggi dinilai berdasarkan kelengkapan komposisi dan jumlah asam amino esensial dibandingkan dengan protein standar.
Itu adalah salah satu caranya, Reynaldy! Apabila Reynaldy ingin mengetahui lebih lanjut tentang bagaimana cara menilai mutu protein yang lain hingga bagaimana prosedurnya, Reynaldy bisa mengunjungi website standar pangan oleh pom yang akan saya lampirkan pada tautan di bawah.
Terimakasih Reynaldy, salam sehat!
http://standarpangan.pom.go.id/dokumen/pedoman/Pedoman-Evaluasi-Mutu-Gizi-dan-Non-Gizi-Pangan.pdf
Siap ,terimakasih saudara Raven atas penjelasan dan referensinya.
DeleteHala Madrid.
Apakah kebutuhan diet dari atlit dayung sendiri memiliki perbedaan apabila latihan 5x/minggu dengan 3x/minggu?
ReplyDeleteDan apa pertimbangan tlit dayung tidak perlu diberikan snack setelah olahraga?
Terimakasih (41160078)
Selamat Sore Kennard, Saya Amelita mewakili kelompok 2.2 ingin membantu menjawab, tentu saja ada bedanya karena akan tetapi perbedaan ini biasanya lebih terlihat dari tahap mana atlet melakukan latihan karena kita tau semakin tinggi tahap yang dilakukan atlet semakin tinggi intensitas latihan yang atlet lakukan , misalnya tahap pesiapan biasa, maka gizi karbohidrat yang diperlukan adalah 3-7 gr/ kgbb/ hari sedangkan tahap pertandingian karbohidrat yang di perlukan bisa 5 - 12 gr/kgbb/ hari.
DeleteAlasan Atlet tidak diberikan snack setelah latihan adalah karena jarak atlet selesai latihan dengan makan malam sangat dekat, sehingga di asumsikan atlet dapat langsung makan di makan malam.
Begitu Kennard jawaban dari kami semoga membantu dan terima kasih telah bertanya
Baik terimakasihh, Sangat membantu
DeleteSaya juga membaca ternyata penambahan kebutuhan diet terkait latihan juga terdapat di buku pedoman gizi olahraga prestasi halaman 19 dan 20. Untuk dayung 86 kg juga dapat dengan 8 kalori/ menitnya
Barangkali kita bisa memadukan :D
Terima kasih kennard atas tambahan informasinya
Deletesaya ingin bertanya jika porsi latihan pada atlet bertambah apakah kebutuhan asupan gizi dari atlet tersebut juga bertambah? jika bertambah apakah terjadi penambahan porsi atau makanan lainya misal snack atau minuman? TerimaTerimabanyaj
ReplyDeleteHi, terima kasih untuk pertanyaan. Saya Widy perwakilan dari kelompok 2.2 akan mencoba menjelaskan jawaban dari pertanyaan flowerroad. Ketika porsi latihan seorang altet bertambah atau ditingkatkan, maka secara otomatis kebutuhan energi dari atlet pun akan meningkat. Hal tersebut menyebabkan peningkatan kebutuhan nutrisi untuk membentuk energi yang akan digunakan selama latihan. Penambahan porsi makanan dapat dilakukan apabila nutrisi dalam makanan yang dikonsumsi belum mencukupi kebutuhan. Selain itu, pemilihan makanan lain yang lebih kaya akan nutrisi yang dibutuhkan juga dapat dilakukan. Sebagai contoh kebutuhan karbohidrat yang menjadi bahan bakar utama selama latihan, ketika intensitas latihan tinggi dan berlangsung lebih lama maka karbodidrat yang dibutuhkan lebih banyak sehingga untuk memenuhi kebutuhan tersebut asupan karbohidrat harus ditingkat baik itu melalui makanan karbohidrat kompleks seperti nasi, roti dsb ataupun dengan penambahan asupan karbohidrat sederhana seperti minuman yang mengandung glukosa. Kebutuhan nutrisi juga bergantung pada jenis latihan yang dilakukan. Apabila latihan yang dilakukan adalah latihan endurance dengan intensitas tinggi maka dibutuhkan asupan ekstra protein, makanan yang dikonsumsi sebaiknya makanan kaya akan protein seperti telur, susu, daging merah dll. Semoga menjawab.
DeleteSaya ingin bertanya apakah dengan pola makan yang benar itu harus dilihat dari makro dan mikro nutrisinya ? Sedangkan seseorang yg rajin berolahraga tentu memiliki metabolisme yg cukup tinggi
ReplyDeleteBrp asupan calorie intake yang harus dipenuhi? Apakah ada cara untuk mengetahui nya ?
Trims
Hi terimakasih sudah bertanya pada kelompok kami. Perkenalkan saya Inda Rebeca (41160073) akan mencoba menjawab pertanyaan ini. Pola makan yang benar tentu akan dipengaruhi oleh banyak hal, salah satunya adalah asupan yang adekuat dari makronutrisi dan mikronutrisinya. Karena Menu makanan yang dimakan tentu harus menyesuaikan kebutuhan karbohidrat, lemak dan protein sehingga kebutuhan energi dapat tercapai dengan maksimal. Selain itu faktor kepatuhan atlet mengkonsumsi makan-makanan yang sudah diatur untuk memenuhi kebutuhan energi pun sangat berpengaruh terhadap pola makan yang benar.
DeleteUntuk asupan calori intake yang harus dipenuhi bisa dihitung melalui rumus dimana sudah kami tampilkan di postingan sebelumnya bersamaan dengan set menu yang sudah kami atur agar kebutuhan kalori atlet terpenuhi. Selain itu bisa dihitung juga menggunakan rumus harris benedict:
Laki-laki= 66 + (13,7 x BB) + (5 x TB) – (6,8 x U)
Perempuan = 655 + (9,6 x BB) + (1,8 x TB) – (4,7 x U)
Keterangan:
BB = berat badan dalam kg
TB = tinggi badan dalam cm
U = umur dalam tahun
Sekian jawaban dari saya, semoga bermanfaat. Salam sehat!
Referensi:
Fink, H., & Mikesky, A. (2018). Sports nutrition. (5th ed.). USA: Cathy L Esperti.
Terimakasih kelompok 2.2 atas informasinya
ReplyDeleteIzin bertanya, pada makalah disebutkan teh dipilih karena teh mengandung kafein yang dapat menghemat energi saat berlatih. Mengapa kafein dari teh lebih dipilih daripada sumber kafein lain ? Terimakasih
Selamat malam denis, saya raymond Dwi Prasetya (41160023) mewakili kelompok 2.2 mencoba menjawab pertanyaan anda.
Deletekelompok kami memilih teh pada pemilihan menu ini karena pada saat penyusunan menu pada malam hari teh merupakan minuman yang mengandung kafein lebih sedikit dari pada kopi. Kami khawatir jika menggunakan kopi kandungan kafeinya malah mebuat atlet terbangun pada malam hari dan membuat kualitas tidur atlet buruk yang akhirnya dapat membuat performa atlet menurun. Untuk pemilihan teh juga karena teh mempunyai efek relaksan sehingga dapat menurunkan efek stes pada atlet.
Terima kasih
Terima kasih kelompok 2.2 atas informasinya, izin bertanya adakah buah-buahan yg dapat dijadikan alternatif yg dapat dikonsumsi oleh atlet, untuk memenuhi kebutuhan karbohidratnya, dengan intensitas latihan yg tinggi?
ReplyDeleteHallo Arnoldy, terimakasih untuk pertanyaannya. Nama saya Ella, mewakili kelompok 2.2 mau menjawab.
DeleteUntuk buah-buahan yang dapat dijadikan alternatif bisa pear, strawberry, pisang mas, sirsak, apel, markisa dan masih banyak lagi. Buah-buahan ini mengandung 12 g karbohidrat dan juga merupakan sumber vitamin terutama karoten, vitamin B1, B6 dan C. Untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat, jumlah buah-buahan tersebut bisa disesuaikan dengan perhitungan kebutuhan asupan karbohidrat atlet.
Untuk mengetahui buah-buahan lainnya dan juga jumlah buahnya bisa dibaca di Buku “Menyusun Diet Berbagai Penyakit” edisi 4 yang diterbitkan oleh FK UI.
Terimakasih.
Selamat siang izin bertanya.
ReplyDelete1. Apakah hasil diatas dapat digeneralisasikan untuk seluruh atlet (cabang olahraga apapun) dalam kebutuhan kalori terbanyak berupa karbohidrat?
2. Mengapa kebutuhan kalori lemak lebih banyak dari pada protein?
Terimakasih kak Vina, Saya Raven, NIM 41160059 perwakilan dari kelompok 2.2 izin untuk menjawab
Delete1. Dalam memenuhi kebutuhan kalori, karbohidrat dapat digeneralisasikan untuk seluruh atlet. Hal ini disebabkan karena karbohidrat memiliki peran sebagai penghasil energi utama. Setiap 1 gram karbohidrat dan protein akan menghasilkan 4 kkal, sedangkan 1 gram lemak akan menghasilkan 9 kkal. Lalu mengapa karbohidrat dipilih menjadi pemenuh kebutuhan kalori terbanyak? Secara umum, hal ini dikarenakan karbohidrat dapat diproses lebih cepat untuk diubah/dipecah menjadi glukosa, fruktosa, dan galaktosa yang diperlukan oleh tubuh dibandingkan dengan protein dan lemak. Hal ini yang menjadikan karbohidrat sebagai pemenuh kebutuhan kalori terbanyak.
2. Apabila ditinjau dari menu yang dibuat, kebutuhan kalori lemak tampak lebih banyak daripada protein, hal ini dikarenakan penyesuaian kami terhadap komposisi gizi bagi atlet tersebut. Batas kebutuhan lemak adalah < 30% dan angka yang kami gunakan adalah 25%. Kemudian, pemenuhan protein adalah sebesar 12-15% sehingga akan tampak kebuthan kalori lemak lebih banyak daripada protein. Hal ini juga dikarenakan bahwa lemak digunakan sebagai cadangan energi kedua untuk seorang atlet, terutama jika atlet tersebut merupakan atlet yang menekuni cabang olahraga dengan intensitas sedang hingga berat. Protein akan menjadi sumber energi apabila karbohidrat dan lemak sudah habis digunakan.
Demikian jawaban yang dapat saya sampaikan untuk mewakili Kelompok 2.2. Kiranya dapat menjawab kedua pertanyaan dari Kak Vina. Salam sehat kak Vina!
Pagi teman teman, saya Ika Irmawati Susanto (41160012) ingin bertanya.
ReplyDeleteBolehkah atlet tersebut diberikan sumber air lain selain berasal dari air putih? Minuman elektrolit contohnya. Jika boleh, bagaimana periode waktu minumnya? Terimakasih
Selamat sore Ika terima kasih atas pertanyaannya, Saya Amelita 41160017 akan membantu membantu menjawab, Tentu saja atlet boleh mengkonsumsi minuman yang mengandung elektrolit, minuman ini akan disarankan ketika atlet membutuhkannya sebagai pengganti elektrolit dan cairan yang hilang selama latihan. Namun pada atlet dayung ini minuman elektrolit belum kami sarankan karena kami merasa belum perlu memberikan cairan maupun elektrolit tambahan yang cepat di serap tubuh karena tubuh atlet belum memerlukannya. Pemberian minuman elektrolit akan efektif ketika atlet mengalami pengurangan kadar air 1 - 2% dari total kadar air dalam tubuh dan pada atlet ini pengurangan air belum mencapai angka tersebut. Mungkin untuk melengkapi jawaban ini Ika bisa melihat jawaban pada kolom pertanyaan saudara Rudolf dimana kami menjelaskan alasan minuman elektrolit belum perlu di berikan.
DeleteSekian jawaban dari saya semoga menjawab dan terima kasih telah bertanya.
Sumber : Sari, Nika Anita. Hubungan Asuoan Cairan, Status Gizi dengan Status Hidrasi pada pekerja di Bengkel Divisi Engineering PT PAL Indonesia. 2017. Surabaya: Universitas Airlangga
DeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteAtlet dayung merupakan olahraga yang membutuhkan kekuatan otot dan tulang. Apakah asupan nutrisi diatas sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan otot dan tulang? Jika belum mencukupi, asupan nutrisi apa saja yang harus ditambahkan?
ReplyDeleteTerima kasih untuk pertanyaannya, saya Widy perwakilan kelompok 2.2 akan mencoba menjelaskan jawaban dari pertanyaan tersebut. Sesuai dengan set menu yang sudah kami susun pada postingan sebelumnya, asupan nutrisi untuk tulang dan otot sudah cukup terpenuhi. Nutrisi untuk tulang dan otot terpenuhi dengan pemberian makanan yang mengandung kalsium, vitamin D, fosfor, protein. Pemenuhan kalsium didapatkan dari susu dan olahannya, kuning telur, sayur bayang, sayur kangkung dan sayuran hijau lainnya. Fosfor dan vitamin D dapat ditemukan dalam tahu, tempe dan olahan kedelai. sedangkan protein dapat ditemukan dalam susu, daging, telur. Semoga menjawab
DeleteJika atlet hendak bertanding atau latihan. Sebaiknya kapan waktu terbaik atlet makan sebelum pertandingan? Apakah 1 jam sebelum? Apakah 2 jam sebelum? Dst
ReplyDeleteHi, terimakasih sudah bertanya. Perkenalkan saya Inda Rebeca (41160073) akan mencoba menjawab pertanyaan ini. Waktu terbaik atlet makan sebelum latihan/bertanding tergantung dari makanan apa yang atlet konsumsi. Pengaturan waktu makan yang baik bagi atlet adalah sebagai berikut:
Delete3 -4 jam sebelum bertanding/latihan: mengkonsumsi makanan utama seperti nasi, sayur, lauk pauk dan buah
2 jam sebelum bertanding/latihan: snack/makanan kecil seperti roti, crackers
1 jam sebelum bertanding/latihan: Jus, buah dan teh
<1 jam sebelum bertandig/latihan: cairan/minuman (dianjurkan air putih)
Sekian jawaban dari saya, semoga bermanfaat. Salam sehat!
Referensi:
Sudiana, I. K. (2010). Asupan Nutrisi Seimbang Sebagai Upaya Mencegah Kemerosotan Prestasi Olah Raga. Jurusan Ilmu Keolahragaan, pp. 41–55.
Dalam makalah disebutkan tentang pemberian teh karena kandungan kafeinnya bermanfaat bagi atlet. Jenis teh apa saja yang dapat dikomsumsi oleh atlet? Berapa takaran teh yang harus diminum? Jika meminum teh apakah boleh dicampur gula? Jika boleh berapa takaran gulanya?
ReplyDeleteterima kasih atas pertanyaanya, saya Raymond Dwi Prasetya (41160023) mewakili kelompok 2.2 akan mencoba menjawab.
DeletePada dasarnya untuk semua jenis teh dapat dikonsumsi oleh atlet karena kandungan gizinya yang dapat berguna untuk memenuhi kecukupan gizi atlet, seperti teh hijau, teh hitam, teh melati, teh oolong,dll. Namun perlu diingat bahwa rasa tiap teh berbeda dan hal tersbut membuat atlet tidak menyukai rasa teh tertentu seperti rasa pashit pada teh. Takran teh yang dapat diminum kembali lagi dengan kebutuhan gizi yang dibutuhkan atlet tersebut dimana setiap 1 gelas teh mengandung 5 g karbohidrat dan 20 kalori. Teh dapat dicampur gula, untuk takaranya bisa disesuaikan dengan selera masing - masing, dimana kandungan gula dalam 1 sendok makan memiliki 12 gram karbohidrat dan 50 kalori yang berarti lebih besar kalori pada gula dari pada teh. Sehingga jangan sampai kebutuhan kalorinya malah berlebih.Takaran yang kami anjurkan adalah 1-2 sendok teh karen jika terlalu banyak mungkin akan memyebabkan oslmolaritas pada teh meningkat dan kebiasaan meminum teh dengan kandungan gula yang berlebih menyebabkan penyakit tertentu di kemudian hari. Terima kasih
Dalam makalah diatas tidak disebutkan mengenai buah buah yang tepat bagi diet atlet dayung. Apa saja buah buah yang direkomendasikan bagi atlet dayung?
ReplyDeleteHai kak Anonym, saya Raven NIM 41160059, perwakilan dari kelompok 2.2 Ijinkan saya untuk menjawab pertanyaan dari kak Anonym.
DeletePada dasarnya tidak ada buah spesifik yang menjadi buah yang direkomendasikan bagi atlet dayung karena setiap buah memiliki kandungan nutrisi yang berbeda-beda sehingga buah-buahan yang dikonsumsi disarankan untuk bervariasi agar memenuhi kebutuhan vitaminnya. Salah satu contoh buah yang dapat disarankan untuk atlet adalah pisang. Pisang merupakan buah sumber karbohidrat dan kalium. Karbohidrat pada pisang berfungsi untuk mencegah kelelahan dan meningkatkan cadangan glikogen dalam hati dan otot, sedangkan kalium berfungsi untuk mengstabilkan konsentrasi elektrolit dan menjaga keseimbangan cairan tubuh saat melakukan olahraga endurance.
Kiranya dapat menjawab pertanyaan dari kak Anonym ya! Terimakasih kak Anonym! Salam sehat dari kami
Dalam makalah dibagian asupan air, terdapat tabel mengenai waktu dan berapa banyak air yg harus diminum. Ditabel disebutkan sebelum latihan, pada saat latihan, dan setelah latihan atlet harus minum sesuai dengan kebutuhan. Berkaitan dengan bulan ramadhan, bagaimana agar asupan cairan atlet tetap terpenuhi pada saat latihan?
ReplyDeleteHallo, terimakasih untuk pertanyaannya. Nama saya Ella, mewakili kelompok 2.2 mau menjawab.
DeleteUntuk menjaga agar asupan cairan atlet tetap terpenuhi pada saat latihan di bulan Ramadhan sebaiknya atlet tersebut disarankan untuk bisa memenuhi kebutuhan cairannya dengan meminum banyak air saat malam hari, saat sahur, dan setelah berbuka puasa.
Di jurnal yang saya baca, intensitas latihan akan berkurang saat bulan ramadhan dan disarankan dilakukan saat menjelang berbuka puasa karena sisa cairan dan energi yang akan habis bisa langsung dipenuh saat berbuka. Dan sebaiknya untuk mencegah dehidrasi saat latihan, disarankan saat sahur sudah minum sekitar 2 liter, dan saat berbuka sampai tidur tetap menjadi hidrasi minimal minum sekitar 1 liter.
Terimakasih.
Sumber : Puspitawati, I. D. (2019) ‘Perilaku Aktivitas Olahraga Pada Saat Bulan Ramadhan’, Jurnal Ilmu Keolahragaan, 2(2), p. 30. doi: 10.26418/jilo.v2i2.35328.
Terima kasih kepada kelompok 2.2 atas informasinya.
ReplyDeletePerkenalkan saya Gabriela (41160093), disini saya mau bertanya mengapa pemberian susu sapi diberikan pada pagi hari? Kemudian omega 3 pada seafood itu sangat tinggi, bagi orang dengan alergi seafood apakah menu A dan B yang dibuat sudah memenuhi kecukupan omega 3? Mengapa tidak diberikan suplementasi pada atlit tersebut? Terima kasih.
Hallo Gabriela, Pertanyaan yang sangat menarik :). Saya Amelita (41160017) akan mencoba membantu menjawabnya satu persatu
Delete1. Pemelihan susu sapi pada pagi hari kami lakukan karena setelah melihat-lihat beberapa sumber susu dapat menambah nilai gizi pada asupan gizi seimbang atau mudahnya memberikan kelengkapan dalam pemenuhan gizi maupun energi yang dibutuhkan individu terkait.
2. Atlet gulat terkait memiliki alergi seafood sehingga kami tidak memilih makanan yang mengandung seafood, kami secara spesifik tidak menghitung kebutuhan dari omega 3 namun menurut kami kandungan omega 3 telah didapatkan dari beberapa menu olahan kacang-kacangan seperti tahu yang merupakan olahan kacang kedelai. Selain itu asupan omega 3 yang merupakan asam lemak tidak jenuh sendiri kebutuhannya sekitar 3 -7 % untuk tubuh dan ini bisa di penuhi dengan konsumsi bahan makanan seperti kacang-kacangan , alpukat maupun dengan penggunan minyak
3. Suplementasi tidak kami berikan karena atlet dalam kondisi yang prima (baik dalam IMT) dan atlet telah mengkonsumsi makan yang cukup untuk kebutahan gizi maupun vitaminnya.
Semoga memjawab Gabriella, Terima kasih sudah bertanya
Sumber:
Triratnawati, Atik. 2017. Makna susu bagi konsumen mahasiswa di kafe susu di Yogyakarta: antara gizi dan gengsi,Jurnal Gizi Klinik Indonesia, Vol. 14, No. 1, Juli 2017: 27-35. Yogyakarta: UGM
Waspadji,Sarwono. 2018. Menyusun Diet berbagai penyakit. Jakarta:FKUI
Diana, Fivi Melva.2012. Omega 3, Jurnal Kesehatan Masyarakat, Maret 2012-September 2012, Vol. 6, No.2.
Saya Yediva (41160042) mau bertanya dikatakan bahwa saat atlet latihan dengan intensitas rendah kadar karbo akan diturunkan, apakah hanya karbo saja ? Bagaimana dengan protein dan lemak nya? Terimakasih kelompok 2.2 :)
ReplyDeleteHalo Yediva, terima kasih atas pertanyaannya, saya Widy perwakilan dari kelompok 2.2 akan mencoba untuk menjawab pertanyaan Yediva.
DeleteTujuan dari penurunan karbohidrat pada intensitas latihan yang rendah adalah untuk mencegah kelebihan karbohidrat dalam tumbuh yang akan disimpan dalam bentuk lemak sehingga mempengaruhi postur tubuh atlet. Apabila intensitas latihan rendah, maka asupan protein dan lemak juga harus disesuaikan. Pada postingan sebelumnnya, telah dijelaskan mengenai perhitungan kebutuhan kalori/hari yang dipengaruhi oleh faktor aktivitas. Ketika latihan intensitas rendah maka secara otomatis kebuhutan kalori/hari pun akan berkurang yang juga akan mempengaruhi jumlah kebutuhan makronutrien baik karbohidrat, protein dan lemak. Namun yang perlu juga diperhatikan adalah % kebutuhan makronutrien baik karbohidrat, protein dan lemak dari kebutuhan kalori/hari. Persen kebutuhan juga dapat berbeda karena disesuaikan dengan jenis latihan. Sebagai contoh jenis latihan adalah endurance maka diperlukan intake protein yang lebih dibanding kebutuhan harian biasanya. Semoga menjawab
Sangat informatif.
ReplyDeleteTerima kasih debbyzunta, semoga bermanfaat.
DeleteTerima kasih sebelumnya atas informasinya kak. Perkenalkan saya Divia, saya mau bertanya kak terkait minuman berkafein untuk atlet. Pada informasi di atas dituliskan bawa kafein mampu menghambat pengeluaran energi pada atlet. Apakah terdapat kriteria minuman berkafein yang baik dikonsumsi oleh atlet ? Apakah memang semua minuman yang mengandung kafein itu baik untuk atlet kak ? Terima kasih kak🙏
ReplyDeleteHi Divia, terimakasih atas pertanyaannya. Perkenalkan saya Inda Rebeca (41160073) akan mencoba menjawab pertanyaan dari Divia. Sebelumnya mohon maaf yang kami tuliskan dalam makalah adalah kafein bermanfaat untuk menghemat pengeluaran energi yang digunakan ketika berlatih dan dapat meningkatkan kapasitas latihan, jadi bukan menghambat pengeluaran energi melainkan menghemat pengeluaran energi.
DeleteUntuk kriteria konsumsi kafein yang baik bagi atlet adalah dengan dosis yang tepat, dimana dosis kafein yang tepat dikonsumsi dalam sehari adalah 100-200 mg.
Semua minuman yang mengandung kafein tentu bermanfaat untuk atlet, karena seperti sudah dijelaskan diatas tentang manfaat kafein pada atlet.
Sekian jawaban dari saya, semoga bermanfaat ya. Salam sehat!
Referensi:
Negro, M., Et Al., 2013. Sports Nutrition Science: An Essential Overview. Progress In Nutrition Vol. 15, N. 1, 3-30, 2013, 15(1), Pp. 3-30
Thorlton, J., Colby, D. A. and Devine, P. (2014). Proposed actions for the US
food and drug administration to implement to minimize adverse effects
associated with energy drink consumption. American Journal of Public
Health, 104(7), pp. 1175–1180.
Infonya sangat menarik dan mudah dimengerti
ReplyDeleteTerima kasih. Senang bisa berbagi informasi
Deletehalo kelompok 2.2, menarik sekali ya informasinya. saya Nada Dian NIM 41160025 ingin bertanya mengenai atlet dayung dimana biasanya cabor ini memiliki panjang lintasan tertentu, apakah mungkin jika atlet tsb akan menambah kalorinya jika atlet tsb mengikuti kompetisi dayung dengan panjang lintasan yang lebih panjang? terimakasih.
ReplyDeleteTerima kasih Nada dian, atas pertanyaanya. Saya Raymond Dwi Prasetya(41160023) mewakili kelompok 2.2 mencoba menjawab.
DeleteUntuk kebutuhan kalori jika panjang lintasan diperpanjang maka kebutuhan kalorinya pun akan bertambah karena energi yang dibutuhkan tubuh untuk melakukan aktivitas molahraga dayung tersebut juga bertambah. Terutama kebutuhan cairan yang perlu ditambah agar tidak dehidrasi. Semakin berat aktivitas yang dilakukan oleh atlet tersebut maka kalori yang dibutuhkan juga semakin besar, sehingga asupan kalori juga harus ditambah.
Terima kasih
halo saya Evinol 41160075 kelompok 3.1, hendak bertanya apa alasan memberikan air sebanyak 1560 ml saat latihan? terimakasih.
ReplyDeleteHallo Evinola, terimakasih atas pertanyaannya. Nama saya Ella, mewakili kelompok 2.2.
DeleteKami memberikan 1560 ml saat sesi latihan karena menurut guidelines asupan air saat latihan, disarankan atlet mengonsumsi 1/2-1 gelas setiap 15 menit ketika jam latihan. Dalam jadwal latihan atlet kelompok kami, durasi latihannya 165 menit dimana pada pada 60 menit pertama kami beri 1/2 gelas/15 menit, 30 menit setelahnya 1 gelas/15 menit dan 75 setelahnya 1/2 gelas/15 menit, dengan ukuran 1 gelas sebanyak 240 ml, sehingga saat ditotal atlet meminum 6,5 gelas dengan jumlah air 1560 ml.
Terima kasih.
Sumber : Belski R, Forsyth A, Mantzioris E. Nutrition for Sport, Exercise and Performance. Sydney: Allen & Uwin, 2019.
Hallo kelompok 2.2. Terima kasih atas informasinya yang sangat menarik.
ReplyDeleteSaya ingin bertanya mengenai pemberian serat pada atlet. Pada menu B disampaikan bahwa saat makan siang terdapat menu capcay. Adakah batasan waktu maksimal pemberian serat pada atlet sebelum latihan, agar dapat mengurangi ketidaknyamanan gastrointestinal? Terima kasih
Hai Putu Clara, terimakasih atas pertanyaan yang diberikan. Saya Raven NIM 41160059 dari Kelompok 2.2 ijin untuk menjawab.
DeleteBatasan waktu yang disarankan untuk bisa mengonsumsi serat sebelum latihan pada atlet adalah 2 jam sebelum berlatih. Hal ini bertujuan agar sistem pencernaan memiliki waktu untuk mengolah makanan berserat tersebut dan tidak membuat atlet kehilangan fokus untuk berlatih.
Begitu ya Clara jawaban yang dapat saya sampaikan. Kiranya menjawab pertanyaan yang Clara beri. Salam sehat, Clara!
Halo kelompok 2.2, terima kasih atas informasinya.
ReplyDeletePerkenalkan saya Gianna Tangkilisan (41160072) dari kelompok 3.6
Pada pemilihan menu teman" memberikan snack 1 jam -1,5 jam sebelum latihan kalau boleh tau pertimbangannya apa saja? dan apa dampak dari pemeberian makanan dengan waktu yang dekat saat sebelum latihan?
Terima kasih! Tetap semangat & stay healty:)
Selamat siang Gianna, Saya Amelita 41160017 akan mencoba menjawab, pemberian sanak sebelum latihan sebenarnya menjadi tambahan energi dan melengkapi jumlah asupan air akan diperlukan atlet sebelum latihan. Pemeberian snak dan air ini dilakukan 0,5 jam sebelum latihan dimulai sebelum latihan dimulai, disini kami tidak memberikan snack dalam kurun waktu 1- 1,5 jam seperti yang gianna tanyakan.
DeleteTerima kasih atas pertanyaannya Gianna dan semoga membantu,
Sumber : Bleski,Regina.2019.Nutrition foe sport, excercise and performance.Australia:National library of australia
Halo teman-teman kelompok 2.2
ReplyDeleteSaya Herose Cendrasilvinia
NIM 41160087
Sebelumnya saya apresiasi untuk pemilihan menu A dan menu B menarik,
Saya juga ingin bertanya apakah protein hewani lebih baik daripada potein nabati untuk kekuatan dan massa otot pada atlet? Untuk atlet dayung sendiri lebih direkomendasikan untuk pemilihan protein nabati atau hewani?
Terimakasih teman-teman
Terima kasih atas pernyaannya Herose, saya Widy perwakilan kelompok 2.2 akan mencoba menjelaskan jawaban atas pertanyaan tersebut. Protein hewani maupun nabati, keduanya baik dan dibutuhkan karena tubuh tidak mampu memproduksi asam amino esensial sehingga membutuhkan asam amino esensial yang didapatkan dari asupan protein dalam makanan. Pemilihan antara protein hewani dan nabati disesuaikan dengan kebutuhan. Protein hewani cenderung memiliki asam amino esensial yang lebih lengkap bila dibandingkan dengan protein nabati. Pada atlet dayung, asam amino esensial dibutuhkan untuk pembentukan otot dan memperbaiki kerusakan jaringan otot akibat latihan. Untuk itu protein hewani lebih efektif dan dianjurkan bagi atlet dayung. Semoga menjawab
DeleteSangat bermanfaat, terimakasih
ReplyDeleteTerima kasih :)
Deletehai mau tanya dong, berapa jam sebelum latihan sih atlet boleh makan makanam berat?
ReplyDeleteHalo, terimakasih sudah bertanya. Perkenalkan, saya Inda Rebeca (41160073) ingin mencoba menjawab pertanyaan ini.
DeleteWaktu terbaik atlet untuk makan makanan berat adalah 3 -4 jam sebelum bertanding/latihan, makan berat yang atlet konsumsi bisa berupa makanan utama seperti nasi, sayur, lauk pauk dan buah.
Sekian jawaban dari saya, semoga bermanfaat. Salam sehat!
Referensi:
Sudiana, I. K. (2010). Asupan Nutrisi Seimbang Sebagai Upaya Mencegah Kemerosotan Prestasi Olah Raga. Jurusan Ilmu Keolahragaan, pp. 41–55.
apakah menu itu khusus selama 7 hari sblm pertandingan? gimana jika atlet tersebut bosan? apakah ada menu lain?
ReplyDeleteHallo, Terimakasih sudah bertanya ,Saya Amelita 41160017 mau membantu menjawab, Jadi benar pembuatan menu ini didasari dengan acuan menu selama latihan persiapan pertandingan, tentu saja menu ini akan lebih bervariasi saat pengaplikasiannya agar atlet tidak bosan, kedua menu diatas merupakan 2 contoh dari berbagai macam menu yang dapat menjadi kombinasi makanan dalam memenuhi standar gizi maupun nutri dari atlet pada masa persiapan latihan sebelum pertandingan.
DeleteSumber : S, S. Z., Nurhayati, A. and Yulia, C. (2015). Pemilihan Makanan Atlet Dayung Universitas Pendidikan Indonesia. Media Pendidikan, Gizi dan Kuliner. 4(1), pp. 84–92.
Terima kasih telah bertanya dan semoga membantu