Rasionalisasi Pemilihan Menu Kelompok 2.4


 Rasionalisasi Menu A dan B
  1. Pengantar Olah Raga Gulat
-          Karakteristik Umum Gulat
Gulat menurut Peraturan Gulat Internasional merupakan cabang olahraga bela diri yang memiliki karakteristik tersendiri yaitu saling berhadapan dengan menggunakan anggota tubuh untuk menjatuhkan lawan dengan menggunakan tenaga yang didalamnya bisa mengandung suatu pertarungan yang sengit dengan saling mendorong, menarik, membanting dan mengunci yang bertujuan untuk mengalahkan lawannya. Terdapat 4 bagian teknik dasar seperti teknik pertahanan, teknik serangan, teknik mengangkat, dan teknik mengunci.
-          Pengelompokkan Cabang Olahraga
Menurut Nugroho (2008), cabang olahraga secara umum dapat dikelompokkan menjadi:
1.      Olahraga ringan (menembak, golf, bowling dan panahan)
2.      Olahraga sedang (atletik, bulu tangkis, bola basket, dan soft ball)
3.      Olahraga berat (renang, tinju, gulat, kempo, judo, dan karate)
4.      Olahraga berat sekali (balap sepeda jarak jauh 130 km, angkat besi, maraton rowing).
Berdasarkan pengelompokkan cabang olahraga di atas, gulat termasuk dalam olahraga berat.
-          Kategori-Kategori Kelas
Erawan (2010) menjelaskan bahwa dalam pertandingan gulat terdapat 5 kategori umur, yaitu:
a.       Remaja: umur 14-15 tahun (boleh diikuti pegulat yang berusia 13 tahun dengan surat dokter atau izin orang tua)
b.      Kadet: umur 16-17 tahun (boleh diikuti pegulat yang berusia 13 tahun dengan surat dokter atau izin orang tua)
c.       Junior: umur 18-20 tahun (boleh diikuti pegulat yang berusia 13 tahun dengan surat dokter atau izin orang tua)
d.      Senior: umur 10 tahun ke atas
e.       Veteran: umur 35 tahun ke atas
Selain itu,ada pula pengelompokkan kelas-kelas yang dipertandingkan agar di dalam pertandingan, pegulat dengan berat badan ringan tidak bertanding dengan pegulat dengan berat badan berat. Pembagian kelas gulat adalah sebagai berikut:

Dalam kasus ini, dengan usia 25 tahun dan berat badan 96 kg, atlet gulat ini termasuk dalam kategori senior kelas 6.


  1. Gizi Gulat (Sesuai Skenario)
-          Gizi yang Dibutuhkan (sesuai dengan latihan dan jenis olahraga)
Atlet yang mengalami status gizi yang tidak optimal, mereka harus meningkatkan status gizi mereka. Tujuan manajemen makanan pada tahap ini adalah:
a.       Meningkatkan status gizi untuk meningkatkan berat badan dan meningkatkan kadar hemoglobin.
b.      BB lebih rendah untuk atlet dengan olahraga yang membutuhkan klasifikasi BB tertentu seperti tinju, karate, pencak silat, gulat.
Dalam kasus ini, berdasarkan tabel kategori kelas atlet gulat, dengan usia 25 tahun dan berat badan 96 kg, atlet gulat ini termasuk dalam kategori senior kelas 6. Atlet ini memiliki berat badan yang sudah sesuai dengan kelasnya sehingga intervensi gizi yang dilakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan kalori setiap hari agar dapat memertahankan berat badan, bukan melakukan pengurangan atau penambahan berat badan.
Pemeliharaan status gizi dilakukan untuk atlet dengan status gizi optimal, mulai dari persiapan umum atau setelah memasuki persiapan khusus. secara teratur. Hal-hal yang perlu diperhatikan:
1. Konsumsi energi harus mencukupi, terutama karbohidrat kompleks.
2. Pengaturan sendiri, bahan bakar otot harus diisi ulang setelah berolahraga. 3. Porsi makanan kecil tapi sering.
4. Gunakan istirahat sebaik mungkin. Gunakan waktu ekstra untuk makan agar lebih rileks.
5. Maksimalkan kemampuan endurance/daya tahan dengan meningkatkan kapasitas aerobik dan meningkatkan kadar hemoglobin dan memaksimalkan pengatur metabolisme dengan konsumsi vit dan mineral yang memadai.
6. Banyak makan sayuran hijau dan buah-buahan.
7. Kurangi lemak dan minyak.
8. Minum banyak air dan jus buah, jangan menunggu haus.
9. Timbang berat badan setiap hari untuk memantau status gizi (setelah/sebelum berolahraga).
-          Kebutuhan Gizi Total
Rata-rata kebutuhan energi (kalori) yang dibutuhkan oleh atlet berbeda-beda menurut berbagai sumber. Auliana (2012) menggunakan perhitungan angka metabolisme basal atau kalori basal dan jenis aktivitas untuk menghitung kebutuhan kalori seseorang. Perhitungan ini lebih sering digunakan.
TEE     = Kalori basal x Faktor Aktivitas (berat)

Kalori basal dihitung menggunakan metode Mifflin dengan cara:
10 x weight (kg) + 6,25 x height (cm) - 5 x age (y) + 5
Sementara itu, faktor aktivitas ditentukan dari tabel di bawah ini:

Menurut American Heart Association CDC:
Intensitas latihan sedang         : 50-70% denyut jantung maksimal
Intensitas latihan berat            : 70-85% denyut jantung maksimal

Perhitungan yang dilakukan untuk menentukan kebutuhan kalori atlet gulat:
Denyut jantung maks.             = 220 - usia
                                    = 220 - 25
                                    = 195 x/menit
Denyut jantung latihan           = 146 x/menit → 75% denyut jantung
                                       maksimal (intensitas latihan berat)

Metode Mifflin           = 10 x weight (kg) + 6,25 x height (cm) - 5 x age (y) + 5
= 10 x 96 + 6,25 x 182 - 5 x 25 + 5
= 960 + 1.137,5 - 125 + 5
= 1.977,5 kalori

TEE     = Kalori basal x Faktor Aktivitas (berat)
                        = 1.977,5 x 2,1
                        = 4152,75 kalori



                                    Sumber:Fitzgerald, M. (2006)

-          Kebutuhan Karbohidrat
Karbohidrat adalah sumber energi utama dan awal yang menyediakan molekul glukosa yang ada pada peredaran darah atau pada sel otot dan sel hati yang disimpan sebagai glikogen.
Penting bagi atlet untuk mengonsumsi karbohidrat dalam jumlah yang cukup sehingga tubuh tidak mulai memanfaatkan jaringan tubuh sebagai sumber energi. Kekurangan karbohidrat dapat menyebabkan tubuh membakar lebih banyak kalori, dan menyebabkan katabolisasi massa otot tanpa lemak sebagai sumber energi. Membatasi karbohidrat dalam diet adalah praktik yang umum di antara pegulat yang berusaha menurunkan berat badan. Pola makan yang kekurangan karbohidrat akan menyebabkan cadangan glikogen berkurang, dan tubuh tidak akan pulih dengan baik. Cadangan glikogen yang berkurang akan menyebabkan penggunaan lemak dan protein sebagai sumber energi lebih cepat daripada jika tubuh memiliki simpanan glikogen yang memadai. Tubuh awalnya akan membakar lemak yang tersimpan, tetapi kemudian protein otot akan dikompromikan untuk energi. Ini dapat secara negatif mempengaruhi kinerja atlet, dan juga, meningkatkan potensi kelelahan awal atau cedera.
Sumber makanan tinggi karbohidrat yaitu nasi, roti, krakers, sereal, pasta, buah-buahan dan kacang-kacangan. Apabila karbohidrat kurang, maka dapat menyebabkan kelelahan otot, dan tentu mengganggu performa atlet. Karbohidrat pada atlet merupakan sumber energi utama, disimpan dalam bentuk glikogen di otot. Atlet harus mengkonsumsi karbohidrat sejumlah 60-70% total energi. Konsumsi karbohidrat disesuaikan dengan intensitas olahraga. Contoh: olahraga ringan (3-5gr/kgBB), olahraga intensitas sedang (5-7gr/kgBB), olahraga intensitas tinggi (6-10gr/kgBB), olahraga intensitas sangat tinggi (8-12gr/kgBB).
Gulat termasuk pada olahraga intensitas tinggi sehingga atlet gulat membutuhkan 6 hingga 10 gram karbohidrat per kilogram berat badan. Karbohidrat dibutuhkan sebagai energi utama, sehingga hal ini juga disesuaikan dengan agenda/jadwal latihan/jadwal pertandingan. Apabila sedang menjalani latihan pre-turnamen, atlet gulat disarankan untuk mengonsumsi karbohidrat tinggi untuk menjaga energi tubuh yang digunakan secara terus menerus/berkelanjutan, contohnya adalah tepung-tepungan/pati. Apabila saat turnamen, karbohidrat dibutuhkan untuk menyediakan energi saat turnamen, contohnya adalah krakers, granula, roti, dan sereal.

-          Kebutuhan Protein
Protein adalah makromolekul polipeptida yang tersusun dari sejumlah L-asam amino yang dihubungkan oleh ikatan peptida.Fungsi protein adalah membangun sel tubuh, mengganti sel tubuh, pemberi kalori, membuat protein darah, menjaga asam basa cair tubuh, dan membuat enzim serta hormon.
Beberapa atlet percaya bahwa asupan protein tinggi berkorelasi dengan peningkatan massa otot. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa ini tidak terjadi. Melainkan, latihan dengan asupan protein yang cukuplah yang memberikan peningkatan massa otot. Protein diet adalah dasar fondasi untuk pertumbuhan otot. Namun demikian, ada ambang pada sintesis protein. Ini berarti bahwa jika seorang atlet melatih dan mengonsumsi protein berlebih, tubuh hanya akan memanfaatkan protein untuk memenuhi kebutuhannya, dan tidak akan menyimpan kelebihan protein dengan cara yang sama seperti glukosa yang disimpan sebagai glikogen. Selain itu, asupan protein yang berlebihan dapat membuat stres pada ginjal yang membutuhkan lebih banyak penyimpanan air intraseluler untuk membantu penyaringan yang dapat menyebabkan tubuh menjadi dehidrasi. Protein berlebih juga dapat menyebabkan masalah pencernaan dan menurunkan nafsu makan. Meskipun ada kebutuhan untuk asupan protein yang cukup, seringkali atlet di Amerika Serikat melebihi kebutuhan tubuh mereka.
Jumlah protein yang dianjurkan pada atlet untuk dapat membentuk kekuatan otot dan kecepatan sebesar 1,2 - 1,7 g/kgBB/hari, untuk endurance/ ketahanan dianjurkan 1,2-1,4 g/kgBB/hari. Pada latihan intensitas rendah protein diperlukan 1,4-2 g/kgBB/hari, latihan intensitas berat sebesar 2 g/kgBB/hari dan saat latihan intensif diperlukan 2,2 - 2,9 g/kgBB.
Gulat membutuhkan kekuatan dan kekuatan otot yang tinggi. Asupan protein yang tinggi penting untuk membangun dan memperbaiki jaringan otot. Kisaran sasaran untuk protein gulat adalah 1,2 - 1,7 g/kg per hari (dapat ditingkatkan menjadi 2 g / kg per hari jika asupan energi berkurang).

-          Kebutuhan Lemak
Lemak adalah sekelompok senyawa non heterogen yang meliputi asam lemak dan turunannya, lemak netral (trigliserida), fosfolipid serta sterol. Lemak adalah zat gizi yang padat energi (9 kkal per gram) sehingga lemak penting untuk menjaga keseimbangan energi dan berat badan. Lemak adalah sumber energi cadangan kedua.
Fungsi lemak adalah untuk sumber energi, pelindung organ tubuh, menyediakan medium untuk penyerapan vitamin larut lemak (vitamin A,D,E,K), menjaga suhu tubuh, menghemat protein, pembentukan sel, dan sumber lemak essensial.
Rekomendasi diet asupan lemak untuk atlet mirip dengan non-atlet. Penting bahwa atlet memiliki asupan lemak yang cukup untuk meningkatkan kesehatan dengan menjaga keseimbangan energi, pengisian simpanan triasilgliserol intramuskular, dan konsumsi asam lemak esensial yang memadai. Lipid diet sangat penting untuk penyerapan vitamin A, D, E dan K yang larut dalam lemak, serta sintesis kolesterol dan hormon spesifik seks lainnya. Massa lemak dan massa tubuh bebas lemak dapat menghasilkan kekuatan, kelincahan dan penampilan atlet. Secara umum, atlet direkomendasikan untuk mengonsumsi lemak dalam jumlah sedang, atau sekitar 30% dari asupan kalori hariannya.
Lemak untuk atlet harus disesuaikan berdasarkan dengan komposisi tubuh yang diinginkan dan juga tingkat latihan dari atlet sendiri. Untuk atlet yang berusaha mengurangi lemak tubuh, seperti pegulat, direkomendasikan bahwa mereka mengonsumsi 0,5 - 1,0 gram/kilogram/hari lemak. Alasannya adalah bahwa beberapa studi penurunan berat badan menunjukkan bahwa individu yang paling sukses dalam menurunkan berat badan dan mempertahankan penurunan berat badan adalah mereka yang mengonsumsi kurang dari 40 gram lemak dalam makanan mereka. Asupan lemak harus terdiri dari lemak sehat jantung seperti berbagai asam lemak tak jenuh untuk meningkatkan kesehatan. Wolfram merekomendasikan untuk memasukkan ikan berlemak seperti tuna, salmon, sarden, dan trout sebagai sumber lemak sehat. Sumber-sumber lain yang disorot oleh Wolfram termasuk kenari, biji rami, minyak canola, minyak zaitun, dan alpukat.
Dalam pengerjaan pemenuhan gizi atlet kali ini, kami berfokus untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat dan protein atlet gulat terlebih dahulu. Sisa kebutuhan kalori akan dialokasikan untuk kebutuhan lemak. Hal ini sedikit berbeda dengan proses penggunaan cadangan sumber energi pada manusia umumnya yang menggunakan karbohidrat sebagai sumber energi utama, kemudian lemak sebagai sumber energi kedua, dan baru protein sebagai sumber energi ketiga yang akan dipecah menjadi energi. Alasan kami berfokus pada protein sebagai fokus pemenuhan kalori kedua setelah karbohidrat karena asupan protein yang cukup dibutuhkan seorang atlet gulat untuk meningkatkan massa otot. Asupan kalori (energi) harian yang cukup, dengan sebagian besar kalori yang disediakan oleh karbohidrat dan tingkat lemak sedang, memiliki efek hemat protein. Ini memungkinkan tubuh untuk menggunakan protein secara lebih efektif untuk pertumbuhan dan perbaikan otot. Tentunya, seorang atlet gulat memerlukan kondisi otot yang optimal untuk memaksimalkan gerakan menyerang lawan.

-          Kebutuhan Air
Air adalah bagian utama yang mencakup 55-60% dari BB orang dewasa.  Air juga merupakan aspek yang paling penting dari kinerja dan pemulihan untuk setiap atlet. Meskipun, air tidak menyediakan kalori, air adalah media yang digunakan tubuh untuk membantu berkomunikasi antar sel, dan membantu mengontrol suhu tubuh. Adapun distribusi cairan dalam tubuh (45 Liter) yang dibagi menjadi 1. cairang intraseluler (cairan dalam sel) sebesar 30 liter dan 2. cairan ekstraseluler (cairan diluar sel) sebesar 15 liter yang dibagi lagi menjadi 2a. cairan interstisial sebesar 12 liter dan 2b. cairan intravaskular berupa plasma darah sebesar 3 liter. . Tubuh  Sangat penting untuk memiliki asupan air yang memadai untuk kinerja yang optimal. Jika air hilang dan tidak diganti, akan terjadi atlet dehidrasi yabg dapat menderita kelelahan panas, heat stroke atau memiliki peningkatan risiko cedera karena kelelahan.  Maka dari itu diperlukan adanya keseimbangan Air khususnya pada atlet, yang dapat di capai melalui dua cara yaitu  dengan mengontrol asupan cairan dengan adanya rasa haus dan mengontrol kehilangan cairan melalui ginjal. keseimbangan jumlah cairan yang masuk dan keluar tubuh adalah sebagai berikut 

Masukan Air
Jumlah (ml) 
Ekskresi
Jumlah (ml)
Cairan 550-1500 Ginjal 500-1400
Makanan 700-1000 Kulit 450-900
Air Metabolik 200-300 Paru-paru
feses
350
150
Total 1450-2800

1450-2800

Air dapat diperoleh dari minuman, sayuran, buah, daging, ikan, ayam dan sisa metabolisme energi. Air adalah aspek yang paling penting dari kinerja dan pemulihan untuk setiap atlet. Meskipun, air tidak menyediakan kalori, air adalah media yang digunakan tubuh untuk membantu berkomunikasi antar sel, dan membantu mengontrol suhu tubuh. Sangat penting untuk memiliki asupan air yang memadai untuk kinerja yang optimal. Jika air hilang dan tidak diganti atlet dehidrasi dapat menderita kelelahan panas, heat stroke atau memiliki peningkatan risiko cedera karena kelelahan. Rekomendasi menunjukkan bahwa selama olahraga minum 8 ons cairan hidrasi atau 1 cangkir setiap 20 menit adalah hal yang ideal. Setelah berolahraga, 2 gelas air dibutuhkan untuk menggantikan setiap pon berat badan yang hilang. Ilmu pengetahuan terbaru merekomendasikan bahwa atlet memantau warna urin untuk tetap di atas status hidrasi mereka yang bertujuan untuk urin berwarna seperti minuman limun.
Para atlet dianjurkan sebelum sesi atletuntuk minumsebanyak 5-10 ml/kg, ketika sedang sesi latihan disarankan untuk minum 400-800 ml/ jam selama latihan, dan setelah berolahraga dianjurkan untuk mengganti 125-150 % dari  kehilangan cairan tubuh. Sumber lain (General Fluid Guidline) menyatakan bahwa, atlet harus minum saat sebelum latihan, 30 menit sebelum latihan, dan     setiap 15 menit selama latihan, dan sesudah latihan dengan anjuran sbb:
                                    - Sebelum latihan 2-3 jam: minum 2-3 gelas (16-24 oz)
- 30 menit sebelum latihan: minum air ½ gelas - 1 gelas (5-10oz)
- Setiap 15 menit selama latihan: minum air ½ gelas - 1 gelas (5-10oz)
- Setelah latihan: minum sekurang-kurangnya 20 oz (2 ½ gelas) setiap penurunan berat badan.

-          Kebutuhan Vitamin dan Mineral
Zat gizi mikro berperan penting dalam produksi energi, sintesis hemoglobin (Hb), pemeliharaan tulang kesehatan, fungsi kekebalan tubuh yang memadai, dan perlindungan.
Jaringan tubuh dari kerusakan oksidatif. Zat gizi mikro juga diharuskan untuk membantu membangun dan memperbaiki jaringan otot setelah latihan. Vitamin B-kompleks memiliki 2 fungsi utama secara langsung terkait dengan olahraga. Tiamin, riboflavin, vitamin B-6, niasin,asam pantotenat, dan biotin berpengaruh dalam produksi energi selama latihan.  Folat dan vitamin B-12 diperlukan untuk produksi sel darah merah,sintesis protein, dan dalam perbaikan dan pemeliharaan jaringan. Nutrisi antioksidan contohnya seperti vitamin A, E, dan C, beta karoten, dan selenium — berperan penting dalam melindungi membran sel dari kerusakan oksidatif. Asupan nutrisi antioksidan (Vitamin A,E,dan C) dibutuhkan terutama bagi atlet yang mereka yang membatasi asupan energi, atau yang tidak suka mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran. Asupan mineral seperti kalsium,zat besi, dan seng dibutuhkan bagi atlet, terutama atlet yang menghindari konsumsi daging, ikan, unggas dan produk susu. Vitamin D penting untuk penyerapan kalsium yang memadai, regulasi kalsium serum, dan peningkatan kesehatan tulang.
Karena atlet gulat dalam skenario tidak menyukai sayuran hijau, maka, kecukupan vitamin mineralnya dapat digantikan dengan makanan lain seperti buah-buahan yang mengandung vitamin dan mineral atau jus dan air putih.


DAFTAR PUSTAKA

Auliana, R. (2012). Kebutuhan & Kecukupan Gizi. [Online], [http://www.slideshare.net/dendot/menghitung-kebutuhan-gizi, diakses pada 25 April 2020].

Belski, R, et al. (2019). Nutrition for Sport, Exercise, and Performance. 1st Edition. Crows Nest: A & U Academic.

CPSDA. (2014). Nutrition For The Wrestling Student-Athlete. Www.SportRD.Org. www.sportRD.org

Erawan, B. (2008). Gulat. Bandung: Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Universitas Pembangunan Indonesia.

Fitzgerald, M. (2006). Performance Nutrition For Wrestles: A Practical Handbook to Solving the Sport’s Complex Nutrition Puzzle. 244.

Greenshields, B. A., et al.  (2015). The Wrestler’s Diet: A guide to healthy weight control. 13(July), 105–117.

Guyton A.C. & J.E. Hall. (2007). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta: EGC.

Knox, C. (2017). Review and Commentary of the Nutritional Recommendations, Weight Management Regulations, Weight Management Practices, and the Potential of Disordered Eating Patterns in High School Age Wrestlers. The Sport Jurnal, 21.
Nugroho, S., 2008. Peran Nutrisi bagi Olahragawan. MEDIKORA, (1).

Sanford Health. (2019). Nutrision for Wrestling: Weight Loss the Healty Way. Retrieved April 24, 2020, from Sanford Health website: https://news.sanfordhealth.org/sports-medicine/wrestling-nutrition/

Syafrizar & Welis, W. (2009). Gizi Olahraga. Malang: Wineka Media

S, L. F. K., Tjandrarini, A. B., & Amelia, T. (2015). Rancang Bangun Aplikasi Penentuan Bahan Makanan Berdasarkan Status Gizi Pada Pasien Rawat Jalan. Jsika, 4(1), 24–30.

Waspadji, S. (2015). Menyusun Diet Berbagai Penyakit. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Wrestling, U. W. (2017). International Greco-Roman Wrestling Women ’s Wrestling.

Comments

  1. Terimakasih informasinya kelompok 2.4,

    Saya Febrina Eva Susanto (41160066) dari kelompok 3.5,
    saya ingin bertanya apakaha da menu makanan khusus yang digunakan untuk mengatasu obesitas yang terjadi pada atlet??

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. Halo, Febrina, terima kasih sudah bertanya pada kolom komentar kami.
      Saya, Cynthia Kumala Sari (41160057), perwakilan kelompok 2.4 akan menjawab pertanyaan Febrina.

      Obesitas/kegemukan dipahami sebagai hasil dari predisposisi fisiologis (contohnya genetik). Tatalaksana untuk atlet obesitas bukan dilakukan dengan intervensi psikologis dan intervensi medis. Intervensi psikologis bertujuan untuk merubah perilaku (makan dan berolahraga) individu; intervensi medis yang dapat dilakukan seperti treatment bedah untuk obesitas.

      Menurut David (1995), ada 10 langkah untuk cara makan yang positif (positive eating) sebagai penatalaksanaan obesitas. Kesepuluh langkah di bawah ini dapat menjadi dasar susunan menu makanan yang Febrina tanyakan:

      1. Mengurangi kadar lemak dalam makanan.
      Sekarang banyak terdapat makanan rendah lemak dan buah-buahan yang merupakan makanan terbaik rendah lemak

      2. Menghindari terlalu banyak gula.
      Jika membutuhkan sesuatu yang manis, dapat dipenuhi dengan buah-buahan yang menyediakan serat, gula, dan vitamin kompleks.

      3. Membatasi asupan sodium.
      Asupan sodium yang direkomendasikan adalah 3.000 mg/hari, konsumsi rendah sodium (2.000 mg/hari) direkomendasikan untuk individu dengan tekanan darah tinggi.

      4. Konsumsi makanan yang bervariasi.
      Tubuh membutuhkan makronutrien dalam jumlah banyak dan mikronutrien dalam jumlah sedikit. Namun, asupan tetap harus dibatasi, asupan makronutrien yang berlebihan dari makronutrien dapat menyebabkan penambahan berat badan. Sementara itu, asupan yang berlebihan dari mikronutrien dapat menyebabkan tubuh keracunan.

      5. Mengonsumsi lebih banyak karbohidrat kompleks
      Makan lebih sering roti dan beras atau pasta. Serat dapat membantu mengurangi konstipasi (sembelit) sehingga mengurangi risiko terkena kanker usus besar. Tapi, perlu diperhatikan agar meningkatkan konsumsi serat secara bertahap agar tidak kembung dan membuat gas dalam perut.

      6. Raih/pertahankan berat badan ideal.
      Untuk menghindari penambahan berat badan, seseorang perlu mengeluarkan lebih banyak kalori daripada kalori yang masuk dalam tubuh atau yang dimakan. Idealnya, makan agak lebih sedikit dan berolahraga agak lebih banyak atau mengonsumsi makanan dengan jumlah tetap namun mengurangi asupan lemak.

      7. Menghindari/membatasi kafein.
      Kafein terdapat dalam kopi, teh, coklat, cola. Kafein termasuk stimulan yang membuat seseorang mudah terganggu atau cemas, mengganggu tidur, dan menyebabkan masalah gastrointestinal.

      8. Membatasi konsumsi alkohol.
      Jika dikonsumsi berlebihan, alkohol mengganggu penyerapan vitamin B, meningkatkan gula darah, meningkatkan tekanan darah, dan mengganggu relasi seseorang dengan orang lain.

      9. Mengonsumsi tablet multivitamin setiap hari.
      Vitamin dan mineral tergolong mikronutrien, yang diperlukan tubuh dalam jumlah sedikit, akan tetapi tanpanya, metabolisme terganggu.

      10. Makan dalam frekuensi sering dan dengan tenang.
      Salah satu bentuk positive eating adalah menyediakan waktu untuk mempersiapkan makanan dan santai saat mengonsumsinya. Tubuh kita akan berfungsi dengan lebih baik bila diisi dengan makanan secara sering.

      Langkah 1-5 di atas mengikuti format piramida panduan makanan dari puncak piramid sampai ke bawah piramid.
      • Bagian atas piramida berupa lemak, gula, dan garam yang cenderung dikonsumsi berlebihan.
      • Bagian tengah piramid berupa susu, daging, telur, kacang, yang mengandung protein.
      • Bagian bawah piramid berupa biji-bijian atau padi-padian, seperti roti, sereal, nasi, dan pasta.

      Sementara langkah 6-10 lebih berfokus pada pengontrolan berat badan, kafein, alkohol, vitamin, dan saran untuk membuat persiapan makan dan kegiatan makan menjadi menyenangkan dan tidak membuat stres.

      Begitu, Febrina, semoga bisa menjawab pertanyaan yang ditanyakan. Terima kasih.

      Salam,
      Cynthia Kumala Sari
      (41160057)

      Delete
    3. Sumber:
      Davis, M.1995. The Relaxation and Stress Reduction Workbook. 4th edition. New Harbinger Publication, Inc: Shattuck Avenu, Oakland

      Delete
  2. Saya ingin bertanya. Mengapa dalam perhitungan kebutuhan lemak diperhitungkan terakhir sesudah perhitungan kebutuhan protein dan karbohidrat ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Stephanie, terimakasih atas tanggapan dan pertanyaanya.
      Saya Herose Cendrasilvinia NIM 41160087, perwakilan kelompok 2.4 akan menjawab pertanyaan Stephanie.

      Pada atlet gulat kebutuhan karbohidrat dan protein atlet gulat harus dipenuhi terlebih dahulu kemudian baru lemak. Sedangkan pada umum proses penggunaan cadangan sumber energi pada manusia menggunakan karbohidrat sebagai sumber energi utama, kemudian lemak sebagai sumber energi kedua, dan baru protein sebagai sumber energi ketiga yang akan dipecah menjadi energi. Alasan kelompok kami berfokus pada protein sebagai fokus pemenuhan kalori kedua setelah karbohidrat karena pada atlet gulat perlu asupan protein yang cukup untuk peningkatan masa otot. Kita tahu bahwa atlet gulat tentunya membutuhkan massa dan kekuatan otot yang tinggi untuk dapat menyerang lawan secara maksimal. Selain itu protein juga dapat digunakan untuk
      untuk membangun dan memperbaiki jaringan otot. Hal ini memungkinkan tubuh untuk menggunakan protein secara lebih efektif untuk pertumbuhan dan perbaikan otot. Kisaran sasaran untuk protein gulat adalah 1,2 - 1,7 g/kg per hari (dapat ditingkatkan menjadi 2 g / kg per hari jika asupan energi berkurang). Pada penelitian oleh Daneshvar dkk (2013) juga menyebutkan bahwa sumber energi utama pada atlet gulat diawali dari karbohidrat, kemudian sumber energi kedua adalah protein, dan yang terakhir adalah lemak. Kebutuhan lemak pada atlet harus disesuaikan berdasarkan dengan komposisi tubuh yang diinginkan dan juga tingkat latihan dari atlet sendiri.


      Sumber:
      Daneshvar, P., Hariri, M., Reza Ghiasvand, G. A., Darvishi, L., & Iraj, B. (2013). Dietary
      Behaviors and Nutritional Assessment of Young Male Isfahani Wrestlers. NCBI.
      Sanford Health. (2019). Nutrision for Wrestling: Weight Loss the Healty Way.
      Retrieved April 29, 2020, from Sanford Health website:
      https://news.sanfordhealth.org/sports-medicine/wrestling-nutrition/

      Delete
  3. Bagaimana cara mengatasi atlet yang tidak doyan sayur?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat malam Margaretha, terimakasih atas pertanyaannya.
      Izinkan saya Nada Dian NIM 41160025 menjawab selaku perwakilan dari Kelompok 2.4.
      Pertama, sayur-sayuran adalah bahan makanan yang mengandung vitamin dan mineral serta rendah kalori. Sehingga apabila tidak doyan sayur, maka kebutuhan-kebutuhan tersebut seperti vitamin dan mineral dapat digantikan dengan bahan makanan lain.
      Bahan makanan lain yang dipilih oleh kelompok kami adalah buah-buahan yang pada dasarnya lebih digemari daripada sayur-sayuran.
      Sayur-sayuran seperti kacang-kacangan mengandung zat besi, tembaga, folat, vitamin B12, vit A, vit C, vit K dan zinc. Selain itu terdapat buah-buahan seperti alpukat yang tinggi serat, mengandung lemak sehat, vitamin B6, vitamin C, vitamin K, dan kalium.
      Begitu banyak dan beragam kandungan vitamin serta mineral buah-buahan sehingga dapat mengatasi masalah tidak doyan sayur.
      Terimakasih semoga bermanfaat.
      Sumber:
      Nuraini, Fibra. 208. BUKU AJAR PENGETAHUAN BAHAN NABATI I: SAYUR-SAYURAN, BUAH-BUAHAN, KACANG-KACANGAN, SEREALIA DAN UMBI-UMBIAN. Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
  4. Informasi yang sangat bermanfaat. Ijin bertanya perkenalkan saya Reynaldy Marpaung NIM 41160069.

    Dalam olahraga gulat tentu harus menjaga berat badannya supaya stabil,sesuai kelasnya.
    Bagaimana strategi bagi si atlet dalam mempertahankan BB nya ketika sedang tidak ada pertandingan (off season) ?
    Terimakasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, Reynaldy, terima kasih sudah menanggapi dan bertanya pada kolom komentar kami.
      Saya, Cynthia Kumala Sari (41160057), perwakilan kelompok 2.4 akan menjawab pertanyaan Reynaldy,

      Waktu off season biasa digunakan atlet untuk membentuk ototnya sehingga atlet harus tetap memerhatikan kandungan nutrisi yang dikonsumsi. Atlet harus mengonsumsi kalori yang cukup sesuai dengan kebutuhan dan aktivitasnya dengan jadwal teratur. Saat off season, atlet cenderung melakukan latihan berat yang lebih kurang daripada saat ada pertandingan sehingga atlet cenderung lebih menumpuk lemak. Hal tersebut dapat disiasati dengan mengurangi makanan berlemak saat off season ataupun biasanya akan normal kembali saat on season.

      Selain itu, atlet juga tetap harus melakukan workout kardio untuk menjaga berat badan dan menambah atau mempertahankan massa otot. Hal ini penting terutama bagi atlet gulat, karena atlet gulat sangat membutuhkan kekuatan otot saat bertanding.

      Penting juga menyediakan waktu untuk istirahat/recovery. Banyak orang tidak menyadari bahwa saat masa istirahat/recovery dapat terjadi penambahan otot. Oleh karena itu, atlet harus memberi kesempatan bagi otot untuk beristirahat agar otot dapat berkembang dan tidak menimbulkan penurunan berat badan. Rentang waktu istirahat atlet juga berbeda, beda, umumnya berkisar antara 2-3 hari.

      Semoga membantu.

      Sumber:
      Syafrizar & Welis, W. (2009). Gizi Olahraga. Malang: Wineka Media

      Salam,

      Cynthia Kumala Sari

      (41160057)

      Delete
    2. Terimakasih saudari Cynthia atas jawabannya. Salam sehat dari kelompok 3.4 :)

      Delete
  5. pada atlet gulat, kira kira buah apa saja yg dianjurkan guna pemenuhan gizi ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat malam Yoana, terimakasih atas pertanyaannya.
      Izinkan saya Nada Dian NIM 41160025 menjawab selaku perwakilan dari Kelompok 2.4.
      Buah-buahan yang dianjurkan bagi atlet gulat adalah buah yang tinggi karbohdirat, kenapa? Kelompok kami memilih hal tersebut dikaernakan kebutuhan karbohidrat merupakan yang paling tinggi sekitar 50-60% dari total kebutuhan.
      Karbohidrat juga merupakan energi yang pertama kali digunakan oleh tubuh sebagai sumber energi sehingga kami memilih buah dengan karbohidrat yang tinggi.
      Contohnya adalah bengkuang, pepaya, mangga, pisang, sirsak, jambu air, duku, seperti yang sudah kami cantumkan pada menu makanan kami sebelumnya.
      Semoga terjawab. Terimakasih.

      Delete
    2. sumber:
      Nugroho, S., 2008. Peran Nutrisi bagi Olahragawan. MEDIKORA, (1).

      Delete
  6. Bagaimana dengan perhitungan gizi sebelumnya yang selama ini menjadi asupan atlet tersebut (tercukupi atau tidak tercukupi) ?
    Pemberian gizi dan pembuatan menu apakah juga memperhitungkan makanan kesukaan atau makanan yang biasanya dikonsumsi dengan melihat food recall 24 jam / food record atlet tersebut?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat siang bu Yohana, terima kasih buat pertanyaan yang diberikan, izinkan sayaa Yeremia Wicaksono (41160018) sebagai perwakilan kelompok 2.4. untuk gizi atlet tersebut apabila sebagai orang biasa termasuk gizi berlebih terlihat dari IMTnya namun, karna atlet tersebut merupakan atlet gulat yang berada di kategori senior kelas 6 sehingga gizi tersebut cukup untuk atlet tersebut. sehingga kita melakukan pembuatan menu makanan atlet untuk mempertahankan gizi yang sudah terpenuhi oleh atlet agar tidak berlebih atau kekurangan gizi agar apabila ada pertandingan berikutnya dapat tetap berada di kategori kelasnya. untuk food recall jelas perlu, karna kita jadi mengetahui apa saja makanan yang sudah dmakan sebelumnya mengenai gizinya dan juga kita dapat mengetahui apa yang tidak disukai atau yang disukai oleh atlet tersebut
      begitu Ibu Yohana, Terima kasih

      Sumber :
      Siregar, N. S., & Sitompul, S. F. M. (2019). Hubungan Status Gizi Terhadap Kondisi Fisik Atlet Ssb Tunas Muda. 3(1), 47–55.

      Delete
  7. Selamat malam teman-teman, saya ingin bertanya terkait vitamin dan mineral. Apakah ada rekomendasi yang lain, selain mengkonsumsi buah dan air mineral untuk memenuhinya?, jika ada, apa yang menjadi pertimbangan sehingga hal tersebut tidak dicantumkan?
    Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. selamat malam Frilla, terimakasih atas pertanyaannya. izinkan saya menjawab selaku perwakilan kelompok 2.4,
      menurut sumber yang saya baca untuk vitamin dan mineral itu jenisnya banyak dan bermacam-macam, diantaranya adalah:

      1. vitamin A, D, E, K, (larut lemak)
      2. vitamin B kompleks (B1, B6, B12), niasin, asam folat, vitamin C (larut air)
      3. jenis mineral seperti magnesium, kalsium, fosfor, sodium, pottasium, klorida, besi, seng, tembaga, mangan, dll.

      sumber vitamin dan mineral pun beragam, tidak hanya berasal dari buah dan air mineral saja. sumber vitamin dan mineral bisa di dapatkan dari sayur-sayuran, dan produk hewani seperti daging dan susu. akan tetapi pada kasus ini atlet tidak doyan sayur-sayuran sehingga kami memutuskan untuk menggantikannya dengan buah-buahan.
      terkait dengan sumber vitamin dan mineral, kami sudah menambahkan di set menu A dan B kami, sebagai contoh adalah sbb:
      1. daging ayam: mengandung zat besi, niasin, vitamin B2, sodium, besi, seng, tembaga, selenium
      2. telur ayam: mengandung vitamin B12, B2, niasin, vitamin A, vitamin D, besi dan iodin
      3. susu: mengandung vitamin B12, kalsium, vitamin B2, niasin, vitamin A, kolin, vitamin D, fosfor, dan iodin.
      4. kacang-kacangan: mengandung vitamin B1, asam folat, kolin, vitamin E, vitamin K, fosfor, magnesium

      begitu kiranya dapat menjawab pertanyaan Frilla. Terimakasih.

      sumber:
      Nestle Nutrition Institute: Sport Nutrition Focus. Vitamin dan Mineral

      Delete
  8. Terima kasih kelompok 2.4 mengenai informasi yang telah dipaparkan. Perpaduan menu A dan B yang ditawarkan juga sangat menarik.
    Pada skenario disampaikan bahwa atlet tidak suka mengkonsumsi sayur hijau. Saya ingin bertanya bagaimana apabila seseorang tidak mengkonsumsi sayur-sayuran sama sekali? Apakah akan berdampak pada kesehatan orang tersebut? Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Clara, terimakasih sudah membaca serta memberi tanggapan bagi kelompok kami.

      Saya Herose Cendrasilvinia
      NIM 41160087

      Saya perwakilan kelompok akan menjawab pertanyaan Clara,
      Sebelumnya kita bahas dulu ya pentingnya sayur bagi tubuh. Sayur-mayur adalah bahan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan (bahan makanan nabati) yang mengandung banyak manfaat. Sayur berwarna hijau adalah sumber karoten yang baik untuk antioksidan. Semakin hijau warna sayur maka semakin banyak kandungan karoten yang terkandung di dalamnya seperti brokoli yang juga mengandung manfaat lain seperti vitamin C, folat dan mineral. Sedangkan sayur kecambah seperti tauge, cukup kaya akan vitamin E (Sediaoetama,1999). Dalam Tumpeng Gizi Seimbang, sayuran menempati posisi pada tingkat dua yang disarankan untuk dikonsumsi 3 sampai 4 porsi sehari. The National Health and Medical Research Council (NHMRC) merekomendasikan masyarakat untuk mengonsumsi lima jenis sayuran per hari.

      Kekurangan konsumsi sayur dapat berdampak buruk bagi atlet. Kekurangan konsumsi sayur dapat meningkatkan risiko kematian akibat kanker saluran cerna sebesar 14%, penyakit jantung koroner sebesar 11% dan stroke sebesar 9%. Hal tersebut karena ragam kandungan vitamin dan mineral yang terkandung di dalam buah-buahan seperti vitamin A, C, E, asam folat, zinc, magnesium, kalsium, kalium, anti oksidan, serat, zat gizi dan cairan tidak terpenuhi sepenuhnya akibat tidak mengkonsumsi sayur. Kuangnya asupan antioksidan seperti vitamin E, vitamin C, dan karotenoid pada sayur akan menyebabkan tingginya risiko penyakit kanker, pada orang yang makan delapan atau lebih sehari 30% lebih kecil kemungkinannya untuk memiliki serangan jantung atau stroke, kurangnya konsumsi sayur dapat menyebabkan rendahnya asupan folat pada tubuh, asupan folat yang rendah akan memicu anemia.

      Sumber:
      Moch. Agus Krisno Budiyono, 2004. Dasar-dasar ilmu Gizi. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.
      Santoso, 2004. Kesehatan dan Gizi. Cetakan II. Jakarta. Rineka Cipta.

      Delete
  9. Terimakasih kelompok 2.4 atas informasinya

    Izin bertanya. Bila pada atlet gulat harus ditargetkan memiliki berat badan yang lebih dari orang dengan aktivitas sedang. Bagaimana cara menjamin agar atlet gulat tetap sehat pada masa tua nya. Terimakasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, Dennis, terima kasih sudah bertanya pada kolom komentar kami.
      Saya, Cynthia Kumala Sari (41160057), perwakilan kelompok 2.4 akan menjawab pertanyaan Dennis,

      Pada masa tua, berat badan yang berlebihan dapat berisiko menimbulkan berbagai penyakit terutama penyakit jantung (hipertensi, stroke, jantung koroner, dll). Oleh karena itu, disarankan, kepada atlet gulat agar menyusun ulang menu makanannya sesuai kebutuhan kalori yang digunakan untuk aktivitasnya sehari-hari (bukan kebutuhan saat ia aktif menjadi atlet gulat). Hal tersebut dilakukan agar gizi yang masuk ke tubuh tidak berlebihan.

      Selain itu, mereka juga dianjurkan agar tetap beraktivitas fisik dan berolahraga supaya otot-otot yang telah terbentuk tidak menjadi atrofi. Penelitian Cooper dalam bidang olahraga kesehatan menunjukkan bahwa orang yang melakukan olahraga kesehatan secara teratur akan memiliki umur yang lebih panjang daripada mantan atlet atau kelompok orang yang melakukan olahraga tetapi tidak rutin. Oleh karena itu, mantan atlet gulat juga harus tetap berolahraga secara rutin (meski tidak seaktif saat menjadi atlet). Olahraga yang biasa dianjurkan adalah olahraga aerobik seperti jogging, berenang, dan bersepeda selama 30 menit setiap hari.

      Begitu, Dennis, semoga membantu. Terima kasih.

      Sumber:
      Cooper, Kenneth H. (2004). Sehat Tanpa Obat: Empat Langkah Revolusi Antioksidan yang Mengubah Hidup Anda. Terjemahan Marlia Singgih Wibowo (Bandung: Kaifa).

      Salam,
      Cynthia Kumala Sari
      (41160057)


      Delete
  10. Terimakasih teman-teman kelompok 2.4 atas informasinya
    Saya Inda Rebeca (41160073) ingin bertanya terkait pemberian protein pada atlet gulat, dimana dimakalah teman-teman menuliskan bahwa asupan protein yg tinggi dapat membangun dan memperbaiki jaringan otot. Kira-kira protein manakah yg baik untuk membangun dan memperbaiki jaringan otot pada atlet gulat? apakah protein nabati atau hewani? dan mengapa?
    Terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. selamat malam, saudara Inda Rebeca, terima kasih sudah bertanya. saya Yeremia Wicaksono (41160018) selaku perwakilan kelompok 2.4 ingin menjawab pertanyaan saudara Inda Rebeca.
      Pada kasus ini sesuai yang saya dapatkan untuk protein yang lebih baik untuk membangun dan memperbaiki jaringan otot pada atlet yaitu protein hewani dimana pada protein hewani tersebut dapat membantu menjaga massa otot sedangkan untuk protein nabati sendiri lebih untuk memperbaiki oskisadi daripada sintesis protein pada otot begitu

      Sekian yang bisa saya jawab mengenai pertanyaan saudara Inda Rebeca. terima kasih

      sumber :
      Berrazaga, I., Micard, V., Gueugneau, M., & Walrand, S. (2019). The role of the anabolic properties of plant-versus animal-based protein sources in supporting muscle mass maintenance: a critical review. Nutrients, 11(8). https://doi.org/10.3390/nu11081825

      Delete
  11. Selamat Pagi teman teman. Saya Ika Irmawati Susanto (41160012) ingin bertanya.

    Apakah tidak masalah atlet saat makan pagi, siang, dan malam diberikan nasi? Melihat IMT nya atlet yang termasuk ke dalam obesitas tingkat 2. Terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. selamat malam ika! terimakasih sudah bertanya.
      izinkan saya Nada Dian (41160025) selaku perwakilan kelompok 2.4 menjawab pertanyaan Ika.

      dalam perhitungan, memang IMT atlet yaitu termasuk dalam kategori obesitas tingkat 2. namun, perlu diketahui pula bahwa cabor gulat memiliki kelas-kelas tersendiri berdasarkan usia dan berat badan, ketika performa atlet sudah dirasa cukup mumpuni dalam kelas tersebut, hal yang harus dilakukan adalah mempertahankan performa atlet dan mempertahankan berat atlet tanpa menambah rasio dari IMT itu sendiri.

      karbohidrat merupakan energi utama bagi atlet, terutama atlet gulat butuh asupan karbohidrat sekitat 60-70% total energi. atlet gulat membutuhkan karbohidrat sebagai sumber energi utama guna mempertahankan power, strength dan endurancenya.

      sehingga, kelompok kami memilih nasi sebagai sumber karbohirat mengingat dalam 100 gram nasi mengandung 40 gram karbohidrat dan berbagai sumber energi lainnya. nasi merupakan bahan pokok yang mudah didapat serta terjangkau oleh berbagai lapisan masyarakat.
      perlu diketahui pula bahwa nasi adalah sumber karbohidrat kompleks (polisakharida), polisakarida sangat bermanfaat bagi energi jangka panjang, sehingga ini yang menjadi pertimbangan. polisakarida akan disimpan oleh tubuh sebagai glikogen otot dan hati, serta glukosa darah, penyimpanan oleh otot biasanya meningkat seiring dengan aktifitas fisik yang dijalani. ketika atlet sedang berlatih maka cadangan glikogen pada otot dan hati akan terpakai guna mempertahankan energi atlet.

      mengingat olahraga gulat merupakan olahraga dengan intensitas tinggi, maka simpanan karbohidrat dalam tubuh adalah hal terpenting selain simpanan lemak dan protein. semakin tinggi intensitas olahraga maka oksidasi karbohidrat meningkat untuk memenuhi kebutuhan energi tubuh, sehingga tubuh akan menggunakan "cadangan" energi karbohidrat yang disimpan di hati dan otot, serta yang ada pada pembuluh darah. tetapi glikogenolisis hati dan glukoneogenesis akan menjaga kadarnya. pada intensitas olahraga tinggi berkurangnya "cadangan energi" dapat menurunkan kadar glukosa dalam darah sehingga terjadi hipoglikemi dan memicu kelelahan. hal ini yang menjadi pertimbangan karena akan mengganggu performa atlet.

      sekian yang bisa saya jawab terkait pertanyaan Ika, terimakasih.

      sumber: Kebutuhan dan Pengaturan Makan Selama Latihan, Pertandingan, dan Pemulihan; oleh Dr. dr. BM. Wara Kushartanti, MS (FIK-UNY)

      Delete
  12. Saya baca sampe terakhir, ini informasi yang menarik di tengah pandemi virus ini. Bagus, lanjutkan ya teman-teman mahasiswa!

    ReplyDelete
  13. Kepada kelompok 2.4
    Izin bertanya, atlet gulat dalam skenario masuk kategori obesitas 2, namun jika di kategori kelas gulat, obesitas tdk terlalu diperhitungkan karena memakai sistem kelas berdasarkan BB.
    Namun jika seandainya atlet mau menurunkan BB agar bisa turun kelas, apakah itu diperbolehkan/tdk? Kemudian bgmn menghitung kalorinya jika mau menurunkan BB?

    Terima kasih
    Vanessa Veronica
    41160062

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Veve, terimakasih sudah membaca serta memberi tanggapan

      Saya Herose Cendrasilvinia
      NIM 41160087

      Saya perwakilan kelompok akan menjawab pertanyaan Veve,
      Atlet gulat dapat turun kelas ve, contohnya ada atlet gulat yaitu Ridha Wahdaniyaty, dia terpaksa harus turun kelas dari kelas 63 kilogram menjadi kelas 59 kilogram, hal tersebut disebabkan karena pada ajang SEA GAMES lantaran tidak ada pertandingan pada kelas 63 kilogram. Penetapan berat badan harus disarankan minimal 6-8 minggu menjelang pertandingan
      Nah caranya untuk menurutkan berat badan dapat sebagai berikut,
      Menurut McArdle (1986), ada tiga cara untuk mengurangi berat badan yaitu
      (1) mengurangi pemasukan kalori setiap hari di bawah pengeluaran energi
      → Dapat dilihat dengan menghitung Calory expenditure. Calory expenditure adalah banyaknya energi yang diperlukan olahragawan setiap hari, besarnya Calory expenditure secara sederhana dapat dihitung dengan menggunakan kelipatan BMR ( Basal Metaboilc Rate ). BMR ( Basal Metabolic Rate ) adalah energi minimal yang diperlukan tubuh dalam keadaan istirahat, paling sedikit 12 jam setelah makan, mental dan fisik dalam keadaan istirahat total. Cara menghitung BMR adalah berat badan X 24 Kalori. Kebutuhan energi ( Calory Expenditue ) gulat dalam sehari adalah BMR + 125%(BMR) = total Kalori.
      (2) mengurangi pemasukan kalori dan meningkatkan pengeluaran energi
      → Kurangi Asupan Makanan 25 % dari yang seharusnya dikonsumsi atlet, hal tersebut dapat dilakukan dengan cara kebutuhan energi ( caloy expenditure) – (25 % x kebutuhan energi).
      (3) kombinasi keduanya, yaitu mengurangi pemasukan kalori dan meningkatkan pengeluaran energi
      Penurunan berat badan dianjurkan oleh Williams (1990) sebanyak 2 pon perminggu. Penurunan berat badan yang lebih dari 2 pon seminggu harus di bawah pengawasan yang ketat dari dokter. Dalam program penurunan berat badan, yang harus dikurangi adalah lemak tubuh, karena penimbunan lemak dalam tubuh akan menyebabkan badan menjadi berat.

      Sumber:
      Irianto, D. P. (2005). Program Diet Untuk Mengendalikan Berat Badan Olahragawan Menuju Puncak Prestasi. Jurnal Olahraga Prestasi, 1.
      Suwirman, S. (2019). Penurunan Berat Badan Atlet Pencak Silat. Media Ilmu Keolahragaan Indonesia, 9.

      Delete
  14. Terimakasih teman-teman kelompok 2.4 atas informasinya
    Saya Vace Liansia (41160020) dari kelompok 1.4 ingin bertanya mengenai asupan cairan
    Bagaimana cara menghitung jumlah cairan yang terkandung dalam makanan?Apakah asupan tersebut cukup? Misalnya pada menu A, asupan cairan seperti minuman air hanya 1x pada snack sore bila saya tidak salah baca, apakah maksud dari asupan air adalah hanya dari kandungan cairan pada makanan?
    Terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, Vace, terima kasih sudah bertanya pada kolom komentar kami.
      Saya, Cynthia Kumala Sari (41160057), perwakilan kelompok 2.4 akan menjawab pertanyaan Vace.

      Seperti yang tertera pada bagian jadwal konsumsi air, asupan cairan diperoleh dari berbagai macam, di antaranya:
      - Terkandung di dalam makanan (1/3 dari total kebutuhan air)
      - Air dalam jus & susu skim (misalnya pada menu A)
      - Air yang dikonsumsi saat beraktivitas biasa
      - Air yang dikonsumsi sebelum, selama, dan setelah latihan
      Untuk perhitungan presentase dan konversinya dalam "gelas" bisa dilihat pada jadwal konsumsi air di link berikut: https://biokimiagizidua.blogspot.com/2020/04/susunan-2-set-menu-olahraga-kelompok-24.html

      Mengenai cara menghitung jumlah cairan dalam makanan, sejauh yang kami tahu, tidak ada cara khusus yang digunakan oleh kebanyakan orang untuk menghitung jumlah cairan dalam makanan. Namun, dapat dikatakan bahwa, umumnya, 1/3 dari total kebutuhan cairan manusia sudah dipenuhi dari makanan yang dikonsumsi.

      Pada jurnal Gizi Klinik Indonesia oleh Briawan dkk, dikatakan makanan pokok menyumbang 10,9% dari total kebutuhan cairan pada makanan. Kemudian disusul oleh makanan sepinggan, seperti bakso, soto, lontong sayur, laksa, dll. Selain itu, sayur-sayuran dan buah-buahan juga menyumbang persenan yang lumayan dalam menambah kebutuhan cairan dalam makanan.


      Begitu Vace, semoga membantu. Terima kasih.

      Sumber:
      Briawan, Dodik, Tyas Rara S, Ikeu Ekayanti. Kebiasaan Minum dan Asupan Cairan di Perkotaan. Jurnal Klinik Gizi Indonesia. 2011; Vol.8 No.1: 36-41.

      Salam,
      Cynthia Kumala Sari
      (41160057)

      Delete
  15. Terima kasih sebelumnya atas informasinya kak. Perkenalkan saya Divia, saya ingin bertanya tentang asupan cairan untuk atlet. Pada informasi di atas, dinyatakan bahwa setelah latihan, atlet harus mengkonsumsi cairan untuk menggantikan 125-150% kehilangan cairan tubuh. Yang ingin saya tanyakan, bagaimana cara memperkirakan banyaknya kehilangan cairan tubuh pada atlet saat latihan ? Selain itu, di atas juga dikatakan bahwa atlet yang kekurangan cairan bisa mengalami heat stroke. Jika hal itu terjadi pada atlet, apakah tindakan yang dapat dilakukan untuk menangani hal itu ? Terima kasih sebelumnya kak🙏🙏

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. Halo Divia, terimakasih sudah membaca serta memberi tanggapan

      Saya Herose Cendrasilvinia
      NIM 41160087

      Saya perwakilan kelompok akan menjawab pertanyaan Divia,
      Menurut CDC ada rumus untuk menghitung jumlah kehilangan cairan pada atlet yaitu dengan menghitung jumlah laju keringat:
      Jumlah laju keringat = berat badan sebelum latihan - berat badan pasca latihan + asupan cairan - volume urin / waktu olahraga dalam jam.
      Selain itu juga bisa dengan cara sederhana yaitu dengan melihat berat badan sebelum latihan dan berat badan sesudah latihan, contohnya seperti tertulis pada makalah, kebutuhan cairan dihitung dari penurunan berat badan, setiap penurunan berat badan dibutuhkan (2 ½ gelas).
      Heat stroke merupakan keadaan darurat medis, terapi yang dapat dilakukan adalah dengan menurunan suhu tubuh dengan cepat, hal tersebut dapat dilakukan dengan cara melepaskan pakaian yang ketat dan menyemprotkan air pada tubuh menutupi pasien dengan lembaran kain yang direndam di air es atau menempatkan bongkahan es di aksial dan selangkangan dapat mengurangi suhu tubuh pasien secara signifikan. Selain itu juga dapat dilakukan perawatan yang intensif yaitu dengan:
      - Mempatkan kateter foley untuk memonitor hasil keluarnya urin
      - Masukkan prober termistor untuk memonitor suhu secara kontinyu
      - Masukkan tabung nasogastrik untuk memantau apakah ada perdarahan lambung dan kekurangan cairan

      Sumber:
      Halman, Robert S; Habal, Rania. 2009. Heat stroke;; diunduh dari http://emedicine.medscape.com/article/1 66320-print. pada 1 April 2020

      Delete
  16. Terimakasih infonya, sangat membantu

    ReplyDelete
  17. Selamat malam, Saya Hana Kristina (41160081) dari kelompok 3.3 ijin bertanya. Pada rasionalisasi dikatakan bahwa asupan lemak harus menggunakan lemak tak jenuh untuk menjaga kesehatan. Namun, pada pembuatan menu menggunakan minyak kelapa yang termasuk dalam lemak jenuh untuk menggoreng. Apa pertimbangannya untuk tidak menggunakan lemak tak jenuh untuk menggoreng seperti yang tertera dalam rasionalisasi? Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. selamat siang hana, terima kasih buat pertanyaanya. izinkan saya Yeremia Wicaksono (41160018) menjawab pertanyaanya. jadi sesuai di makalah rasionalisasi bahwa lebih baik menggunakan lemak tak jenuh untuk menjaga kesehatan dari atlet tersebut dan pada penggunaan minyak kelapa, kelompok kami salah mengambil mengenai minyak kelapa tersebut dan nanti akan kami revisi. terima kasih

      Delete
  18. Nice info. Saya punya pertanyaan. Jika kita tidak mengkonsumsi gula dan nasi sama sekali dan gula dan karbohidrat hanya didapat dari sayur dan buah, apakah cukup?

    ReplyDelete
    Replies
    1. selamat pagi sdri. Leonie, terimakasih atas pertanyaannya.
      izinkan saya Nada Dian NIM 41160025 selaku perwakilan kelompok 2.4 menjawab pertanyaan saudari.


      perlu diketahui bahwa karbohidrat kandungannya dibagi menjadi 3, yaitu: monosakarida (glukosa), disakarida (gula), dan polisakarida (pati). karbohidrat menyumbang pasokan energi utama tubuh, sebesar 50-60% pada orang awam, sedangkan untuk atlet yaitu 60-70%.
      dalam pertanyaan sdri Leonie, saya akan membahas secara awam dan bukan dalam konteks sebagai atlet.
      jika ingin tidak mengkonsumsi gula dan nasi sama sekali, harus hati-hati dan perlu perhatian khusus terkait dengan kondisi masing-masing. ada baiknya dapat mengkonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter spesialis gizi, atau dokter lain yang memiliki kompetensi yang setara. hal ini dilakukan menimbang risiko yang akan terjadi seperti kelelahan, pusing berkunang-kunang, atau sering disebut dengan hipoglikemi. hipoglikemi adalah kondisi dimana gula dalam darah menurun sehingga pasokan energi tubuh berkurang.

      kembali pada diet gula dan nasi, hal tersebut mungkin sekali dilakukan tetapi perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing. nasi memiliki indeks glikemik tinggi sehingga dapat membuat gula darah naik. apabila ingin mengkonsumsi karbohidrat (menggantikan nasi), pilihlah sumber karbohidrat yang baik.

      berikut tips untuk menurunkan konsumsi karbohidrat dan gula:
      1. pilihlah karbohidrat kompleks, karena dapat memberikan energi yang tahan lama. contoh: roti gandum.
      2. hindari makanan dengan indeks glikemi yang tinggi, seperti nasi putih. nasi ketan dan nasi merah lebih disarankan karena memiliki indeks glikemi yang sedang hingga rendah.
      3. jaga intake kalori, jangan sampai kurang dari kebutuhan atau justru berlebih dari kebutuhan. cara menghitung kalori adalah menggunakan rumus Harris Benedict, atau Mifflin.
      4. Terkait penggantian karbohidrat, sumber lain karbohidrat adalah buah-buahan dan sayur, biji-bijian, dan olahan gandum. untuk hasil yang bagus, bisa makan setidaknya 3-5 porsi sayur (15-25 gr karbohidrat), 2-4 porsi buah (30-60gr karbohidrat), 1 cangkir nasi merah atau dapat digantikan dengan 2 roti gandum setiap kali makan.
      5. Sayur dan buah sebagai makanan pokok. Jika perlu memasak dengan direbus.
      6. Hindari makanan cepat saji, gorengan, permen, cokelat, makanan beku, atau makanan yang tinggi karbohidrat minim gizi lainnya.
      7. Banyak konsumsi jus buah.
      8. Pilih makanan organik, yang tidak mengandung bahan kimia seperti sayur dan buah-buahan organik
      9. Perbanyak minum air putih

      Selain itu perlu diperhatikan juga bahwa karena asupan karbohidrat berkurang, maka tubuh akan menggunakan sumber protein sebagai cadangan energi. maka dari itu jangan lupakan dagin serta produk hewani seperti daging sapi, ayam, ikan, dan telur.

      semoga bermanfaat. terimakasih.

      sumber:
      Hall, Joanna. 2006. The No Carbs After 5pm Diet. Penerbit Gramedia: Jakarta
      Pangkalan Ide. 2007. Seri Diet Korektif: Diet Cabbage Soup. PT Elex Media Komputindo: Jakarta

      Delete
  19. Terimakasih atas informasi yang dibagikan melalui makalah saudara.
    Saya ingin bertanya bagaimana pengaruh kategori usia pada olahraga gulat terhadap status gizi para atlet?
    Terimakasih, Tuhan memberkati.

    ReplyDelete
    Replies
    1. selamat siang kak, terimakasih atas pertanyaannya.
      izinkan saya Nada Dian (41160025) selaku perwakilan kelompok 2.4 menjawab pertanyaan kakak.

      cabor (cabang olahraga) gulat memiliki kelas-kelas tersendiri menurut usia, dan berat badannya. dengan bertanding pada kelas masing-masing, maka dibutuhkan latihan yang cukup dengan menimbang status gizi yang baik agar performa atlet tetap terjaga.
      untuk menentukan status gizi yang baik, diperlukan beberapa variabel termasuk usia, berat badan.
      sedangkan untuk melihat intake kalori/kebutuhan energi atlet akan berbeda-beda tiap-tiap individu bergantung pada usia, jenis kelamin, berat badan, serta berat ringannya aktivitas sehari-hari. asupan/intake makanan berpengaruh terhadap status gizi orang tersebut.
      status gizi atlet merupakan indikator baik buruk penyediaan makanan sehari-sehari, guna mempertahankan derajat kebugaran dan kesehatan.

      terdapat pengukuran IMT/U atau indeks massa tubuh yang diukur melalui usia, serta kelas gulat dengan kategori usia dapat dimulai sejak usia 14 tahun. sehingga terdapat hubungan apabila penilaian status gizi melalui IMT/U dengan status gizi para atlet. terdapat pedoman khusus IMT/Usia yang disusun oleh kemenkes, apabila IMT/U memenuhi berarti status gizi dapat dikatakan baik. IMT juga mencerminkan besar cadangan dalam tubuh selain sebagai rasio berat badan dan tinggi badan.

      terimakasih semoga dapat menjawab.

      sumber:
      Siregar, N.S. and Dani, D.P.L., HUBUNGAN TINGKAT KECUKUPAN ENERGI DENGAN STATUS GIZI ATLET GULAT PPLP SUMATERA UTARA. Sains Olahraga: Jurnal Ilmiah Ilmu Keolahragaan, 2(1), pp.10-18.

      Siregar, N.S. and Sitompul, S.F.M., HUBUNGAN STATUS GIZI TERHADAP KONDISI FISIK ATLET SBB TUNAS MUDA. Kesehatan dan Olahraga, 3(1), pp.47-55.

      Delete
  20. selamat malam saya Evinola 41160075 Kelompo k 3.1, ingin menanyakan apakah tempe goreng yang ada di menu A makan siang tidak dihitung kalori dari minyak/mungkin mentega yang dipakai? terimakasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Nola, terimakasih sudah membaca serta memberi tanggapan

      Saya Herose Cendrasilvinia
      NIM 41160087

      Saya perwakilan kelompok akan menjawab pertanyaan Nola,
      Pada menu A kami sudah menyantumkan minyak kelapa kedalam perhitungan menu. Jumlah minyak kelapa yang kami gunakan yaitu 15 gr dengan total 150 kalori. Minyak kelapa sendiri merupakan lemak, yang merupakan sumber energi bagi tubuh. Penting untuk atlet memiliki asupan lemak yang cukup. Lemak merupakan sumber energi cadangan kedua setelah karbohidrat. Manfaat lemak adalah untuk meningkatkan kesehatan dengan menjaga keseimbangan energi, pengisian simpanan triasilgliserol intramuskular, dan untuk penyerapan vitamin A, D, E dan K yang larut dalam lemak.
      Lemak merupakan zat gizi yang menghasilkan energi paling besar dan merupakan sumber energi yang penting untuk kontraksi otot selama olahraga endurance. Menu makanan hewani yang mengandung lemak yang dapat dikonsumsi oleh atlet contohnya adalah ikan berlemak seperti ikan tuna, ikan salmon dan sarden, sedangkan pada buah-buahan yaitu alpukat.

      Sumber: Guyton A.C. & J.E. Hall. (2007). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta: EGC.
      Amani AR, Somchit MN, Konting MM. Relationship between body fat percent and maximal oxygen uptake among young adults. Journal of American Science. 2010.

      Delete
  21. Halo selamat malam sobat!!
    Saya Radian Adhiputra (41160060) dari kelompok 1.6

    Apa yang dimaksud dengan ambang pada sintesis protein? bagaimana mekanismenya?

    Terimakasih atas jawabannya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, Radian, terima kasih sudah bertanya pada kolom komentar kami.
      Saya, Cynthia Kumala Sari (41160057), perwakilan kelompok 2.4 akan menjawab pertanyaan Radian.

      Proses mekanisme sintesis protein dibedakan menjadi 2:

      1. Transkripsi: proses pembentukan RNA melalui pita sense yang terdapat pada pita DNA. Sintesis protein dimulai dengan menempelnya enzim RNA polimerase pada bagian yang disebut promotor. Promotor merupakan titik awal dimulainya peristiwa transkripsi dan sebagai penentu pita DNA yang akan digunakan sebagai cetakan. RNA polimerase akan memisahkan kedua pita DNA dan melakukan penambahan nukleotida-nukleotida RNAd dalam kecepatan sekitar 60 nukleotida per detik. Setelah terbentuknya untai RNA, maka pita DNA yang tadinya terbuka menjadi tertutup kembali. Proses tersebut berlanjut hingga pergerakan enzim RNA polimerase sampai pada unjung pita DNA, yang disebut terminator.

      2. Translasi: penerjemah urutan kodon pada RNAd menjadi urutan asam amino pada ribosom. Penerjemah satu kodon menghasilkan satu asam amino. Terdapat 3 tahap:
      a. Inisiasi: proses menempelnya ribosom unit kecil pada bagian ujung 5’ RNAd. Kemudian dilanjutkan dengan melekatnya RNAt pertama (inisiator) yang membawa asam amino metionin dengan antikodon UAC pada RNAd tepat pada kodon start, yaitu AUG.
      b. Elongasi: proses penguntaian (penyusunan) polipeptida yang dibawa oleh RNAt. Proses penyusunan protein (rantai polipeptida) terjadi pada saat RNAt datang ke ribosom pada posisi A kemudian bergeser ke posisi P melepaskan asam amino yang dibawa. Selanjutnya, RNAt bergeser ke posisi E sebagi pintu keluar dari ribosom.
      c. Terminasi: pelepasan rantai polipeptida dari ribosom. Suatu protein bernama faktor pelepas akan mengikatkan diri pada kodon stop dan menambahkan air pada rantai polipeptida. Hal tersebut menyababkan rantai polipeptida lepas dari ribosom.

      Sepemahaman kami, ambang batas pada sintesis protein adalah apa yang ditetapkan sebagai nilai minimum saat pembentukan protein di atas, yang dianggap dapat diidentifikasi secara signifikan.

      Semoga membantu. Terima kasih

      Salam,
      Cynthia Kumala Sari
      (41160057)



      Delete
    2. Sumber:
      Murray, R. K., Granner, D. K., & Rodwell, V. W. Biokimia Harper.
      Jakarta: Buku Kedokteran EGC; 2009

      Delete
  22. Informasi yang di sampaikan cukup membantu,di sini saya Sinta Shakuntala(41160100) ingin bertanya di katakan bahwa atlet tersebut tidak menyukai sayur,apakah hal tersebut dapat berpengaruh terhadap performanya sebagai seorang atlet ?? selain itu apakah perlu adanya suplementasi untuk atlet tersebut ?? Terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Sinta, terimakasih sudah membaca serta memberi tanggapan bagi kelompok kami.

      Saya Herose Cendrasilvinia
      NIM 41160087

      Saya perwakilan kelompok akan menjawab pertanyaan Sinta,
      Konsumsi sayur dapat berpengauh terhadap performa atlet. Hal tersebut karena sayur merupakan zat mikro. Zat gizi mikro berperan penting dalam produksi energi, sintesis hemoglobin (Hb), pemeliharaan tulang kesehatan, fungsi kekebalan tubuh yang memadai, dan perlindungan. Sayur berwarna hijau adalah sumber karoten yang baik untuk antioksidan. Semakin hijau warna sayur maka semakin banyak kandungan karoten yang terkandung di dalamnya seperti brokoli yang juga mengandung manfaat lain seperti vitamin C, folat dan mineral. Sedangkan sayur kecambah seperti tauge, cukup kaya akan vitamin E. Folat dan vitamin B-12 diperlukan untuk produksi sel darah merah,sintesis protein, dan dalam perbaikan dan pemeliharaan jaringan. Nutrisi antioksidan contohnya seperti vitamin A, E, dan C, beta karoten, dan selenium — berperan penting dalam melindungi membran sel dari kerusakan oksidatif.
      Kami menyarankan untuk atlet yang tidak menyukai sayur dapat diganti dengan hal lain yang dapat memiliki kandungan yang sama dengan sayuran yaitu buah-buahan. Buah-buahan merupakan alternatif yang kami pilih pada kasus atlet yang tidak menyukai sayuran, buah mengandung vitamin dan mineral. Menurut pedoman gizi seimbang disarankan untuk mengkonsumsi buah 2-3 porsi buah perhari.

      Sumber:
      Communications, S. (2016). Nutrition and Athletic Performance. Medicine and Science
      in Sports and Exercise, 48(3), 543–568.
      https://doi.org/10.1249/MSS.0000000000000852
      Santoso, 2004. Kesehatan dan Gizi. Cetakan II. Jakarta. Rineka Cipta.

      Delete
  23. Selamat malam, mau ertanya. Pada atlet gulat, sebeum dan setelah latihan, komponen makronutrient terpenting apa(dan seberapa kira2)? Setahu saya(CMIIW), dalam jangka panjang, atlet gulat perlu mencoba menurunkan berat badan: hal apa yang paling berpengaruh(makro dan mikro) disini? Terima kasih sebelumnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Joseph, terimakasih sudah membaca serta memberi tanggapan bagi kelompok kami.

      Saya Herose Cendrasilvinia
      NIM 41160087

      Saya perwakilan kelompok akan menjawab pertanyaan Joseph,
      Makronutrien yang kami utamakan pertama adalah karbohidrat dan protein. Karbohidrat merupakan sumber energi utama, atau yang pertama digunakan sebagai sumber energi atlet. Karbohidrat yang dibutuhkan dalam sehari adalah 7 gram/kgBB aktual. Selain itu makronutrien yang penting adalah protein. Protein bagi atlet gulat untuk membangun dan memperbaiki jaringan otot. Selain itu gulat juga membutuhkan asupan protein yang cukup untuk bersaing yaitu dengan meningkatkan massa dan kekuatan otot. Kisaran sasaran untuk protein gulat adalah 1,2 - 1,7 g/kg per hari (dapat ditingkatkan menjadi 2 g / kg per hari jika asupan energi berkurang). Menurut Suwirman (2019) makronutrien yang berpengaruh pada program penurunan berat badan adalah lemak. Oleh sebab itu yang harus dikurangi adalah lemak tubuh, karena penimbunan lemak dalam tubuh akan menyebabkan badan menjadi berat. Semakin tinggi aktivitas semakin tinggi pula kalori yang dibutuhkan dari makanan. Jika makanan yang dikonsumsi lebih banyak dari aktivitas yang dilakukan, maka akan terjadi penumpukan lemak dalam tubuh sehingga akan menyebabkan berat badan bertambah.

      Sumber:
      Sanford Health. (2019). Nutrision for Wrestling: Weight Loss the Healty Way. Retrieved April 24, 2020, from Sanford Health website: https://news.sanfordhealth.org/sports-medicine/wrestling-nutrition/

      Suwirman, S. (2019). Penurunan Berat Badan Atlet Pencak Silat. Media Ilmu Keolahragaan Indonesia, 9.

      Delete
  24. Memangnya kebutuhan karbo tiap atlet beda ya? Terus gimana caranya bisa nentukan hitung2an karbo nya buat atlet gulat, kok bisa hasilnya segitu? Thank u.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, Alya, terima kasih sudah bertanya pada kolom komentar kami.
      Saya, Cynthia Kumala Sari (41160057), perwakilan kelompok 2.4 akan menjawab pertanyaan Alya.

      Atlet harus mengkonsumsi karbohidrat sejumlah 60-70% total energi. Tentu kebutuhan karbohidrat masing-masing atlet berbeda. Hal ini ditentukan oleh intensitas/berat ringannya latihan yang mereka lakukan. Ada beberapa kategori atlet, seperti yang telah kami sebutkan di atas, yaitu:

      - Olahraga ringan (kebutuhan karbohidrat 3-5gr/kgBB): menembak, golf, bowling dan panahan
      - Olahraga intensitas sedang (kebutuhan karbohidrat 5-7gr/kgBB): atletik, bulu tangkis, bola basket, dan soft ball
      - Olahraga intensitas tinggi (kebutuhan karbohidrat 6-10gr/kgBB): renang, tinju, gulat, kempo, judo, dan karate
      - Olahraga intensitas sangat tinggi (kebutuhan karbohidrat 8-12gr/kgBB): balap sepeda jarak jauh 130 km, angkat besi, maraton rowing

      Kebutuhan karbohidrat pada masing-masing atlet disesuaikan dengan pengelompokan di atas.
      Pada skenario ini, gulat termasuk pada olahraga intensitas tinggi sehingga atlet gulat membutuhkan 6 hingga 10 gram karbohidrat per kilogram berat badan. Nantinya kebutuhan karbohidrat per gram/hari nya dikonversikan menjadi satuan kalori (untuk karbohidrat, 1 gram karbohidrat = 4 kalori)

      Begitu, semoga membantu. Terima kasih.

      Salam,
      Cynthia Kumala Sari
      (41160057)

      Delete
    2. Sumber:
      Erawan, B. (2008). Gulat. Bandung: Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Universitas Pembangunan Indonesia.

      Delete
  25. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  26. Terima kasih kelompok 2.4 atas penjelasannya. Saya Sinta Putri N. Dari kelompok 1.5 ingin bertanya. Disebutkan bahwa atlet harus meningkatkan status gizi untuk meningkatkan berat badan dan meningkatkan kadar hemoglobin.

    Asupan seperti apa dengan rasio berapa supaya dapat terpenuhi kebutuhan gizi serta bisa meningkatkan berat badan dan bahan makanan apa yang dapat meningkatkan kadar hemoglobin? Terima kasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. selamat siang Sinta Putri, terimakasih atas pertanyaannya.
      izinkan saya Nada Dian (41160025) selaku perwakilan kelompok 2.4 menjawab pertanyaan Sinta.

      atlet yang harus meningkatkan status gizi untuk meningkatkan BB dan meningkatkan Hb adalah atlet dengan status gizi yang belum optimal ya.

      asupan seperti apa dan rasio bergantung pada perhitungan kalori seperti rumus Harris Benedict, dan rumus Mifflin sehingga dapat diketahui minimal intake kalori yang dibutuhkan. lalu dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.

      hemoglobin berfungsi sebagai pengangku oksigen di dalam darah dari paru-paru, jantung, ke seluruh tubuh sehingga fungsi Hb dirasa penting.
      mengenai jenis makanan apa saja yang dapat meningkatkan kadar Hb adalah sbb:
      1. sayuran: bayam, kacang polong, kacang merah, kubis, lobak, ketela, brokoli, kacang lima, sawi, kacang hitam, bunga kol, kacang-kacangan. sayuran-sayuran tersebut memiliki kemampuan meregenerasi zat besi dan mengaktifkan sel-sel darah merah dalam tubuh.
      2. daging: daging sapi, hati, daging ayam.
      3. makanan laut: kerang
      4. buah-buahan: strawberry, jeruk, semangka, tomat, delima

      semoga dapat menjawab, terimakasih.

      sumber:
      Tim Naviri. 2015. 1001 Makanan Sehat. Penerbit PT Elex Media Komputindo: Jakarta

      Delete
  27. Saya Novi NIM 41160019 ingin ertanya pada kelompok 2.4.
    Pada makalah rasionalisasi diterangkan bahwa ingin memfokuskan pada pada protein supaya bisa membentuk masa otot. Tetapi pada makalah menu, protein 138 g/hari dan lemaknya 101 g/hari. karena lemak dikalikan 9, maka hasil kalori lemak akan lebih tinggi dari protein. Apakah bisa dijelaskan kenapa bisa seperti ini? Terimakasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, Novi, terima kasih sudah bertanya pada kolom komentar kami.
      Saya, Cynthia Kumala Sari (41160057), perwakilan kelompok 2.4 akan menjawab pertanyaan Novi.

      Dalam praktik sehari-hari, terdapat pengonversian zat makanan yang memberi energi dari bentuk gram menjadi kalori. Pengonversian tersebut dijabarkan sebagai berikut:
      - 1 g karbohidrat memberi energi = 4,1 kalori
      - 1 g protein memberi energi = 4,1 kalori
      - 1 g lemak memberi energi = 9,3 kalori

      Untuk mempermudah perhitungan, angka tersebut sering dibulatkan menjadi tiap 1 gram setara dengan 4 kalori untuk protein dan karbohidrat, dan tiap 1 gram lemak setara dengan 9 kalori. Setidaknya ketentuan tersebut menjadi dasar dalam pengonversian gram menjadi kalori yang kami lakukan.

      Semoga membantu, terima kasih.

      Sumber:
      Almatsier, S. (2002). Prinsip dasar ilmu gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

      Salam,
      Cynthia Kumala Sari
      (41160057)

      Delete
  28. Wah informasinya sangat bermanfaat, saya akan bagikan ke teman-teman yang lain ya.

    ReplyDelete
  29. terimakasih informasinya, sangat bermanfaat!

    ReplyDelete
  30. Kak taunya masing2 makanan punya brapa kalori lihatnya dari mana ya? Makasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, Syakherra, terima kasih sudah bertanya pada kolom komentar kami.
      Saya, Cynthia Kumala Sari (41160057), perwakilan kelompok 2.4 akan menjawab pertanyaan Syakherra.

      Untuk mengetahui masing-masing makanan memiliki berapa kalori, kami menggunakan sumber buku ini:
      Waspadji, S. (2015). Menyusun Diet Berbagai Penyakit. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

      Atau kalau ingin singkatnya, hanya mengetahui kalori per makanan secara ringkas, bukan kandungan per zat gizi, Syakherra bisa gunakan informasi dari Kemenkes berikut ini:
      http://promkes.kemkes.go.id/wp-content/uploads/pdf/publikasi_materi_promosi/Informasi%20CERDIK/5.%20Diet%20Seimbang_425x28.5mm.pdf

      Tidak menutup kemungkinan Syakherra juga bisa memakai sumber lain yang dapat dipercaya.

      Semoga membantu, terima kasih.

      Salam,
      Cynthia Kumala Sari
      (41160057)

      Delete
    2. Mau tanya lagi dong kalo buku yg rekomended buat pemula tentang makanan atlet baiknya yang mana ya dari daftar pustaka itu?

      Delete
    3. Bisa pakai buku ini kak, yang kami tahu baru ada versi bahasa Inggrisnya (karena buku baru: 2019), namun cukup lengkap untuk berbagai jenis olahraga
      Belski, R, et al. (2019). Nutrition for Sport, Exercise, and Performance. 1st Edition. Crows Nest: A & U Academic.

      Atau untuk mengetahui materi secara ringkasnya, bisa cek web online dosen kami: http://nutrition.web.id/

      Semoga membantu, terima kasih.

      Salam,
      Cynthia Kumala Sari
      (41160057)

      Delete
    4. Okey2 thanks infonya. Webnya lengkap sekali dan membantu :)

      Delete

Post a Comment

Popular Posts